Minggu, 29 Juli 2012

Pesantren Ramadhan lansia, bukan panti jompo.

Saya tersenyum geli membaca berita VOA pada Sabtu, 28 Juli 2012, yang berjudul -Manula bernyanyi supaya lebih sehat-.

Saat ini ada 11 kelompok paduan suara di daerah Washington yang dinaungi oleh lembaga kreativitas manula Encore Creativity for Older Adults, dengan satu kelompok afiliasi di negara bagian Ohio. Encore beranggotakan 550 penyanyi dengan usia rata-rata 73 tahun, namun ada juga yang berumur 90an.

Riset pada tahun 2001 itu membandingkan 150 peserta dengan sekelompok manula yang tidak aktif. Hasilnya, para penyanyi itu memiliki moral yang lebih baik, dengan tingkat depresi yang lebih rendah dan kesehatan secara umum yang lebih baik.

Bukannya hendak ingin mengomentari berita tersebut, kemudian mengkritik atau memberikan solusi. Hanya saja saya jadi teringat kemarin baru saja mengunjungi nenek yang sedang ikut pondok romadhon lansia di Masjid raudhotul 'Arifin, Cukir (lokasinya dekat dengan ponpes tebu Ireng, makam Gus Dur)


Masjid yang terdiri dari 2 lantai itu disulap menjadi seperti tempat penampungan para lansia. Isinya nenek-nenek semua (ya iyalah.. ^^) Selama Ramadhan mereka tidur, makan dan beraktifitas di masjid tersebut. Nenek-nenek tersebut berasal dari daerah sekitar Cukir dan Jombang. Beberapa juga berasal dari luar jombang.


Kegiatan sehari-hari mereka adalah beribadah dan mengaji, Jika pesantren beneran yang santrinya masih muda biasanya ngaji dengan memaknai kitab kuning dan mendengarkan penjelasan plus tausiyah dari Kyai. Namun santri lansia ini karena keterbatasan kerja panca indera yang sudah menurun, mereka cukup hanya ngaji kuping, yaitu cukup hanya mendengarkan kajian dan tausiyah-tausiyah pada jam-jam tertentu. Diluar acara yang dijadwalkan mereka bebas berkegiatan yang lain, seperti jalan-jalan, berinteraksi dengan sesama lansia lain atau menambah amalan tadarusan dan sholat sunnah.

Namun irama pesantrennya tetap terasa sekali, sungguh mengingatkan saya pada masa masih mondok dulu. Ada antri kamar mandi, rebutan shaf depan ketika jama'ah, saling pinjam ini itu hingga rumpi-rumpi ala perempuan ketika jelang tidur di sekitar alas tikar atau kasur yang berjajar dan bersisian.
Disana tidak disediakan lemari untuk pakaian, karena hanya bertempat di masjid. Jadi pakaian dan berbagai keperluan lain itu hanya diletakkan di dekat tempat tidur. Bisa dibayangkan suasananya? yap.. mirip tempat penampungan korban bencana alam, bahkan bahasa lebih kasarnya bisa dikatakan mirip gelandangan hehe..




Hmm... meski kelihatannya hidup kleleran[1] seperti itu, Subhanallah banget ketika melihat raut wajah mereka. Kentara sekali aura suka cita dan kebahagiaan. Nenekku sendiri yang sehari-harinya sudah susah berjalan dengan gesit dikarenakan berbagai penyakit yang menyapa beliau. Thunuk-thunuk[2] kalau orang sini bilangnya. Beliau terlihat sumringah sekali saat kami datang berkunjung. Nenek ternyata bersama adik dan kakaknya yang juga mondok disana.
Ibuku sempat mencandai nenek yang ketika kami datang ternyata sedang sedang  jalan-jalan ke rumah keponakannya yang berlokasi dekat dengan masjid.
"Dulu saya pas mondok disuruh nggak boleh keluyuran. Sekarang kalau njenengan yang mondok ya jangan keluyuran tho, Mak!" Nenek hanya cengar-cengir menanggapinya. Kisah yang terbalik dan unik, dulu orang tua yang memondokkan anaknya, sekarang anak yang mondokkan orang tuanya.

Yang tengah kerudung putih : Ibu saya. Yang kanan kerudung kuning : Nenek saya Fatimah. Yang kiri kerudung hitam : Kakaknya nenek Fatimah, Nenek Hindun.


Bahkan mataku juga sempat menangkap nenek-nenek tua yang sudah bungkuk dan tertatih sekali jika berjalan. Dia sedang mengerjakan sholat dhuha dengan khidmat, dan sungguh... rona kebahagiaan itu selalu kentara tanpa bisa direkayasa. Nenek itu terlihat bersemangat seolah tak peduli dengan ringkih tubuh dan (mungkin) juga sapaan penyakit yang lazim menimpa orang yang sudah berumur. Bisa dikatakan para lansia yang saya lihat itu selayak yang disebutkan oleh Jeanne Kelly dalam hasil risetnya pada para Manula yang bergabung dalam paduan suara itu “memiliki moral lebih tinggi, tidak sering depresi, lebih sedikit makan obat, memiliki lebih sedikit insiden jatuh. Dan mereka juga lebih jarang bertemu dokter.”


Saya tidak sedang mendramatisir kisah, ketika saya menceritakan wajah-wajah mereka yang terlihat sangat bahagia. Mungkin saya bisa sedikit menganalisa, apa gerangan penyebab mereka terlihat begitu gembira berada dan berkegiatan dalam ponpesantren Ramadhan lansia tersebut. 
Berikut hasil analisa saya :
1. Para lansia itu bisa menjadikan hidup di ponpes sebagai refreshing, setelah setiap hari hanya di rumah   menunggui anak cucu. Karena bisa jadi refreshing jenis lain seperti rekreasi ke tempat wisata semacam pantai, pegunungan atau waterboom tidak menjadi pilihan yang menyenangkan bagi mereka disebabkan keterbatasan fisik. Di Ponpes mereka bisa bertemu para lansia lain, saling berkenalan dan berbagi kisah perjalanan hidup yang beragam.
2. Ketenangan beribadah pada bulan Ramdhan juga menjadi sebuah kenikmatan bagi mereka yang merasa penting mencari banyak bekal untuk akhirat, karena mungkin ketika dirumah masih direpotkan oleh kemanjaan cucu, atau mengurus ini itu yang harusnya bisa dikerjakan oleh anak atau menantu. Juga tak terganggu oleh godaan layar kaca dengan berbagai suguhannya.
3. Nostalgia, bagi masyarakat Jombang yang sangat familiar dengan kehidupan Pesantren, bisa jadi pada masa muda mereka itu pernah merasakan serunya sensasi hidup di pesantren. Jadi merupakan kebahagian jika bisa merasakan kembali suasana itu setelah rentang waktu yang panjang disibukkan dengan lakon mengurus anak, jungkir balik membiayai pendidikan, pernikahan, membantu mengurus cucu dan lain-lain.

Kalimat bijak yang mengatakan bahwa 'tubuh yang sehat terletak pada jiwa yang sehat' pasti sangatlah benar adanya. Adanya para lansia yang terlihat merasa sehat dan bahagia di pesantren Ramadhan itu pasti dikarenakan jiwanya yang sedang bahagia.

Memondokkan orang tua ke pesantren ramadhan itu sama sekali tak sama dengan memasukkan ke panti jompo. Yang ketika orang tua tidak lagi produktif, dianggap merepotkan kemudian diasingkan alias membayar orang lain untuk merawat mereka (miris dengan kisah kasus semacam ini). Namun dalam beberapa kasus kadang juga memang keinginan orang tua sendiri yang ingin masuk panti jompo agar mempunyai teman dan tidak kesepian.

Orang tua sudah merawat kita dengan segala kerepotan semenjak kecil, berjibaku mengusahakan biaya pendidikan dan mengantarkan kita menuju gerbang kedewasaan sampai bisa berdiri dan mempunyai kehidupan sendiri. Maka sudah sepatutnya ketika usia mereka telah senja, kita balas membahagiakan mereka. Tak lagi merepoti mereka dengan meminta mereka momong cucu atau pekerjaan-pekerjaan lain yang harusnya lebih pantas kita kerjakan. Dalam hal ini saya melihat uswah dari ibu saya sendiri, 2 atau 3 hari sekali ibu mengunjungi nenek di pesantren untuk mengambil pakaian kotor dan membawakan pakaian baru. Meskipun beberapa santri nenek nenek yang lain ada yang mencuci sendiri pakaian dan peralatan mereka, namun ibu hanya ingin nenek lebih tenang beribadah dan lebih banyak waktu melakukan apa-apa yang disukainya bersama saudara dan teman sesama nenek disana.

Jika di Washington yang dinaungi oleh lembaga kreativitas manula Encore Creativity for Older Adults, lebih menggerakkan manula untuk bernyanyi dan mengadakan konser untuk terapi kesehatan dan kebahagiaan buat para lansia, ya memang cocok dengan lingkungan dan gaya hidup di Amerika. Namun dalam masyarakat yang mayoritas muslim dan tak asing dengan nama pesantren, sungguh pesantren ramadhan buat lansia ini patus direkomendasikan juga sebagai kegiatan terapi.

Wallahu'alam, akhirul postingan, mari lebih menyayangi orang tua.... :)

Zahra, anak kedua saya yang ikut ngunjungi nenek kemarin, Saya membayangkan, ketika sudah jadi nenek nenek nanti, putri saya inilah yang akan memondokkan saya :D

***

Footnote :
[1] Kleleran : bahasa jawa dari berserakan, tempat yang tak beraturan.
[2] Orang tua yang berjalan pelan terbungkuk-bungkuk.




Tulisan ini diikutkan dalam kontes ngeblog VOA

15 komentar:

  1. ada banyak hikmah. pelajarn yg bisa dipetik dari lansia,

    terima kasih telah menulis ini, #bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih juga atas kunjungannya ya :)

      Hapus
  2. sungguh, saya jadi berpikir tentang bagaimana saya ketika menghabiskan sisa waktu nanti. .. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup saya juga. mari memberi yang terbaik pada ortu, insyaAllah anak2 akan melihat dan melihat apa yg kita lakukan..

      Hapus
  3. Acara seperti ini layak dikembangkan di daerah lain. Selain sebagai selingan kegiatan para lansia juga untuk lebih mengkokoh-kuatkan keimanan dan ketaqwaan mereka.

    Bahkan di sekolah-sekolah juga perlu diadakan pondok romadhon bagi para guru dan murid dengan tujuan yang sama.

    Salam hangat dari Jombang Lor

    BalasHapus
  4. Berkumpul dengan sesama lansia sambil melaksanakan ibadah bersama-sama, sudah pasti akan membawa pengalaman indah buat mereka...
    Nice posting mbak...

    BalasHapus
  5. subhanallah pemandanga yang menyejukan ya mbak..

    BalasHapus
  6. mba kok tempat lansianya umpel2an gitu yaT.T
    seperti biasa tulisan mba binta selalu panjang&lebar mencangkup banyak hal secara detil:)
    so...aku jd ingin berbagi sedikit impian masa tuaku:Insaallah jika berumur panjang ingin melewati bersama suami,tetap berkarya&mananti anak cucu di depan rumah yg rimbun dedaunan...Insaallah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya umpel2an tapi mereka seneng.. ga ada wajah menggerutu atau nelangsa disana mbak.. suer ^^

      Hapus
  7. tapi idenya bagus mba,perlu digalakan keseluruh daerah ya....neistilah kerene,orangtua juga butuh...komunitas hehehehe*mrk pasti bernostagia buanyak dg sesamanya ya:)

    BalasHapus
  8. wah bagus ya kalau konsep seperti ini semakin dikembangkan... seperti kata mba eni, jadi komunitas lansia, duh keren :)

    btw, semoga sukses kontesnya mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak.. lansia juga manusia.. pst seneng klo ketemu dan gaul sesamanya hehe

      makasih kunjungan n doanya ya :)

      Hapus

Komentar kamu adalah penyambung silaturrahmi kita, maka jangan ragu meninggalkan jejak :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...