Selasa, 21 Mei 2013

Cara Mengirim Resensi buku ke Korjak (Koran Jakarta)


Karena saya niat banget belajar resensi buku dan berkeinginan agar menembus media, maka saya dokumenkan cara-cara dan tipsnya, dari meng-copy postingan blog seorang teman yang langganan nembus media. Mbak Haya Aliya Zaki.
-------------------------------------------


Kirim resensi Anda ke Rubrik Perada e-mail opini@koran-jakarta.com.

Syarat tulisan:
1.       Panjang minimal 4.000 karakter (dengan spasi)
2.      Orisinal
3.      Komprehensif dalam mengupas
4.      Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
5.      Menggunakan logika bahasa yang mudah dicerna
6.      Tidak salah ketik
7.      Menyertakan kutipan-kutipan buku
8.      Menyertakan cover buku
9.      Terbit paling lama setahun sebelumnya.

KOTAK MUSIK (Cernak dimuat di Radar Bojonegoro)



Dimuat di Konan (Koran anak) Radar Bojonegoro. Minggu 12 mei 2013.
---------------------------------------




Setelah baru saja dibelikan rautan pensil berbentuk boneka panda  oleh ibunya, Fika kembali merengek minta dibelikan sesuatu yang seperti punya temannya di sekolah.

“Belikan aku kotak musik seperti punya Raisa dong , Bu! Fika pengen sekali punya yang seperti itu..” rengek Fika di ruang kerja ibunya. Ruang kerja yang sekaligus ruang tamu di rumah mereka. Ibu Fika masih sibuk berkutat dengan mesin jahit dan lembaran-lembaran kain yang baru diguntingnya sesuai pola.

“Bu.. beliin ya Bu!” Fika masih saja merengek. Tak peduli dengan kesibukan dan keleahan yang tampak jelas di wajah ibunya.

“Fika, Ibu sedang tidak ada uang. Hasil jahitan yang ini buat bayar sekolahnya Fika dulu ya. Kotak musik besok-besok saja kalau ibu ada rejeki lagi..” jawab ibu sembari sejenak menghentikan pekerjaannya. Fika malah cemberut mendengarkan jawaban itu. Ia tetap merengek kemudian bergegas mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu menangis sambil menghentak-hentakkan kaki. Kemudian menggerutu menyesali nasibnya yang sudah tidak punya ayah. Biasanya setelah itu Ibu akan terharu dan selalu berusaha keras memberikan keinginan Fika.

“Belikan ya Bu..” ucap Fika masih sambil menangis. Ibu masih melanjutkan pekerjaannya menjahit meski ia terlihat menjadi sedih dan berpikir keras.
***

Di sebuah Pusat perbelanjaan, Fika berjalan beriringan bersama ibunya. Sang ibu tanpak cemas dan menoleh kekiri dan kanan.

Senin, 20 Mei 2013

Aktualisasi, selingan penat dan berbagi manfaat

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ke-7 dengan tema "Seandainya saya tidak ngeblog''.
------------------------------------------


Ngeblog ituuuu.. ehm sesuatu banget.
Bukannya sok ikut-ikutan Mbak Syahrinol, tapi beneran saya merasakan bahwa ngeblog itu lebih sesuatu daripada nulis di media lain.

Dulu saat masih sangat gaptek, kenal internet pertamanya hanya social media Facebook, saya sukanya nulis di note facebook. Kemudian ngetag teman-teman yang saya ingin mereka baca tulisan saya. Senang sekali rasanya mendapat respon dan apresiasi atas apa yang saya tulis. Apresiasi menyenangkan itu tak melulu berupa pujian, namun tanggapan yang cocok dengan tema tulisan yang saya suguhkan itu lebih berharga di hati saya. Saya malah agak kurang suka dengan komen yang 'wah keren', 'bagus' dan gitu-gitu saja... malah saya jadi mikir bahwa sebenarnya dia nggak membaca cuman unjuk gigi atau numpang lewat aja hehehe..

Kritik dan saran juga merupakan apresiasi yang bermanfaat, meskipun jujur saja kalau terlalu pedas dan menggurui itu rasanya tidak menyenangkan (jujurrr amiit, Bu!.. ^^).

Namun seiring perkembangan jam terbang saya berkencan sama Latipah (nama netbook saya.. ) lama-lama saya bisa membuat blog, dengan panduan teman facebook dan juga Syaikh Gugel. Maka saya  punya blog dan mulai mengisinya dengan macam-macam tulisan. Awalnya cuma impor dari note-note FB lama-lama saya lebih merasa asyik mendokumentasikan lintasan-lintasan pemikiran saya lewat blog. Gimana ya? rasanya lebih private, menarik dilihat, dan tidak mengganggu orang (seiring waktu saya memahami sesuatu bahwa kerjaan ngetag-ngetag tulisan ke FB orang lain itu agak menggaggu, saya memposisikan diri sendiri yang saat kebanjiran tag dari teman dan tak bisa baca jadi merasa bersalah kalau tidak baca, kemudian merasa agak 'terpaksa' buat baca dan mampir komen, lagipula ngetag itu juga aslinya ribet dan menyita waktu jadi lama-lama jadi malas melakukannya).

Sabtu, 18 Mei 2013

Between Area

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam dengan tema 'dua sisi''.


Dua hal yang katanya niscaya dalam kehidupan ini adalah dua sisi yang saling berlawanan. Semisal ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada protagonis ada antagonis, ada pahit ada manis, ada benar ada salah dan lain-lain. Buanyak sekali...

Dan kadang kita terjebak untuk hanya terpaku pada salah satu sisinya. Dan terlampau mengidolakannya.

Saya jadi terkenang pada masa lalu di Pesantren. Murobbi, pengasuh Pesantren Langitan. KH Abdullah Faqih (almarhum, Allahummaghfirlahu warhamhu..). Dalam memandang carut marut berbagai fenomena yang saya lihat di dunia yang saya pijak kini. Dunia yang warna-warni pemikiran bertebaran dan saling bersaing untuk mendapatkan tempat dan follower, saya selalu mengingat dawuh-dawuh beliau semasa masih memberikan tausiyah pada santri-santrinya. Dalam selingan nasehat bijak beliau saya sering menangkap pemikiran beliau tentang keseimbangan, artinya jangan terlalu ngalor[1] dan jangan terlalu ngidul[2]. Jangan terlalu liberalis dan jangan terlalu fundamentalis... dan meskipun beliau adalah salah satu Kyai 'poros langit' yang memberikan restu Gus Dur ( KH Abdurrahman Wachid Almarhum, Allahummaghfirlahu warhamhu...) untuk maju mencalonkan diri menjadi presiden namun dalam tausiyah pada santrinya Kyai Faqih juga acapkali mengkritik Gus Dur. Dalam arti terselubung beliau tidak berkehendak kalau santri-santrinya terlalu mengidolakan Gus Dur tanpa penilaian proposional bahwa manusia juga tetap punya khilaf dan lupa.


Buku Potret dan tauladan Syaikhina KH Abdullah Faqih, berisi pemikiran-pemikiran beliau, mutiara nasehat dan  kata-kata kenangan dari beberapa tokoh, keluarga dan sahabat tentang uswah kebaikan dari Syaikhina.


Kritik yang saya ingat dan berhubungan dengan keseimbangan berpikir itu adalah, beliau Kyai Faqih pernah ngendikan[3] : "Saat jadi presiden, jangan seperti Gus Dur. Terlalu banyak bicara yang kurang penting dan kontroversi malah menimbulkan masalah seperti statement bahwa 'anggota DPR/MPR seperti anak-anak TK dan jangan pula seperti Megawati saat dibutuhkan menjawab dan bicara penting lebih banyak diamnya (waktu itu populer slogan -the silent is gold-nya Ibu Mega)'. Beliau Kyai Faqih menyampaikan hal tersebut di sela-sela ngaji kitab kuning dan memberikan nasehat-nasehat keislaman.

Rabu, 08 Mei 2013

Lomba Resensi Buku Anak PaBer Berhadiah Gedget

Sumber info : Grup Facebook Komunitas Penulis Bacaan Anak dan Website Forum PBA

*PaBer adalah sebutan dari anggota/penghuni Group Komunitas Penulis Bacaan Anak/Forum PBA.

Meramaikan ulang tahun ke-3, Forum Penulis Bacaan Anak mengadakan lomba nulis Resensi Buku Anak PaBer. Peserta menulis resensi buku PaBer yang terbit antara tahun 2012-2013 dari penerbit mana pun. Peserta adalah anggota Forum Penulis Bacaan Anak dengan syarat telah mengisi form pendaftaran di blog forum.

Ketentuan Lomba
1). Peserta memiliki blog
2). Naskah merupakan karya asli dan bukan terjemahan atau saduran.
3). Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak atau elektronik, serta tidak sedang diikutsertakan di lomba lain.
4). Panjang naskah 2 halaman A4 sekitar 2500 karakter.
5). Naskah diposting pada blog peserta dan dikirim ke Group Facebook Komunitas Penulis Bacaan Anak selambat-lambatnya tanggal 22 Mei 2013 dengan subjek Lomba Resensi. Wajib montion @alimuakhir
6). Peserta wajib memfollow twitter @forumPBA
7). Setiap peserta hanya diperbolehkan maksimal 2 tulisan
8). Wajib untuk ngetwit dengan montion @alimuakhir dan @forumPBA
9). Pada setiap judul yang diposting di blog wajib ngelink kewww.forumpba.blogspot.com

Pemenang
Akan ditetapkan 1 Pemenang Utama dan 3 Unggulan

Hadiah
Pemenang I: Sebuah Mini Tab +bingkisan
Pemenang Unggulan: @Bingkisan dari sponsor

Acuhkan Saja Pepatah 'The First Love Never Die' !


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima. Dengan tema 'Cinta Pertama'.
----------------------------------------------------------------------

Dulu saya pernah menulis puisi yang saya namakan PUISI BASI (pernah saya share di facebook, tepatnya 5 mei 2010) 

WARNA TELAGA 
YANG TAK PERNAH TERBACA

Seorang pemuda hitam manis
Dia seperti detakan jantung
Sesekali tersenyum tipis
Dalam lensa berbingkai mendung

Kadang kala,
Membuat sukma tertegun
Dalam goresan petang nan anggun

Pada jingga tak pernah ku bertanya
Pun tak sanggup mengetuk
Hingga tak ada yang membuka pintu
Tuk ijinkan meraba warna telaga

Seorang pemuda hitam manis
Dia seperti detakan jantung

Takdir tak mau menunggu
DIA terlampau tahu
Apa terbaik untuk alurku

Baris-baris puisi
Sekedar basa-basi
Catatan hati yang tak boleh bersemi

----------

Basi banget bukan? hehehe
Yap, saya memang manusia biasa. Yang tak memungkiri bahwa pernah terjadi galau hati karena CLBK. Ahay.. kayak anak remaja saja sih, bu? Loh emangnya cinta itu cuman milik remaja saja, emak-emak nggak boleh apa?

Selasa, 07 Mei 2013

Brownies (bisa kukus bisa panggang).

Berikut adalah resep yang saya dapatkan dari rumpi Facebook bersama tetangga maya mbak Anik Nuraeni 

Bahan A :
6 butir kuning telur.
5 butir putih telur
150 gram gula pasir.
1 sdt emulsiver (tbm/ovalet)
1/2 sdt vanila bubuk

Bahan B :