Senin, 17 September 2012

Merdeka Dalam 'Penjara'.



17 Agustus, hari peringatan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Banyak gempita di mana-mana. Kemeriahan lomba-lomba di sepanjang kampung, karnaval, gerak jalan yang menghiasi jalan raya, juga tak ketinggalan arena panggung di beberapa sudut kampung yang diramaikan dengan mengundang artis amatir kelas kabupaten atau kecamatan.Yang acapkali saya dapati, beberapa kali menyisakan pemandangan tawuran antar pemuda, jika dirunut ujung pemicunya terkadang hanya karena tak sengaja tersenggol atau terinjak saat joged bersama. Miris.. 
Gambar berasal dari SINI.

Agustus memang identik dengan suasana gembira dan meriah. Dengan alasan sebagai peringatan atas hari kemerdekaan dari belenggu penjajah.

Merdeka, apa arti merdeka?
Dan apakah sebenarnya kita sudah merdeka. Sehingga pantas dimeriahkan dengan banyak menghabiskan dana dan kemeriahan begitu rupa?

Pastinya saya tidak akan membahas tentang dua pertanyaan itu. Karena saya sendiri tidak begitu yakin akan akurasi jawaban yang bersarang di dalam benak.

Hanya ingin berbagi sekelumit cerita dari kampung santri, pesantren salafiyyah Langitan tempat saya dulu pernah belajar. (Sudah 8 tahun yang lalu).

Santri putri yang hidup di arena pesantren bersama sekat peraturan dan lingkaran tembok tinggi dengan gerbang kokoh dan kunci serta gembok yang bukan main-main penjagaannya.

Bohong sekali kalau kami merasa ‘merdeka’ di dalam area seperti itu. Apalagi penghuni pesantren putri mayoritas adalah remaja-remaja yang masih belia seusia anak SMP dan SMA. Pasti ada salah satu sisi hati yang yang merasa ‘terpenjara’.

Foto jadul saat masih menjadi santriputri, yang mau di edit tapi gagal dan gak bisa balikin.. heuheu maaf (coba tebak saya yang mana?^^)


Di kampung santri adalah peraturan paten bahwa keluar gerbang adalah sebuah pelanggaran. Semua harus fokus belajar ‘di dalam’ dengan segala aktivitas didikte pada dentang jaros (lonceng) dan tak ada pengecualian. Sebagai bentuk keseriusan pengasuh memegang amanah yang diberikan wali santri yang telah menitipkan pendidikan anaknya kepada pesantren.

Bagaimana jika butuh berobat? Di dalam lingkup ma’had Langitan disediakan UKS, obat-obatannya diresepkan paramedis profesional. Setiap hari Jumat didatangkan dokter ahli. Bahkan tukang pijit pun di datangkan ke area dalam pada hari-hari tertentu untuk menolong santri putri yang terkilir atau capek pegel linu.

Masalah kebutuhan makanan? Ada paket nasi kos yang bisa dibayar bulanan. Ada juga pilihan lain berupa nasi bungkus dari pedagang luar yang ‘harus’ masuk menitipkan dagangan ke kantin pondok. Bakso, pangsit dan bermacam jajanan disediakan.

Kebutuhan yang lain? Sabun, odol, shampo, bedak, alat tulis bahkan fashion jilbab dan sarung pun disediakan di koperasi dengan harga hampir sama dengan yang di luar.

Lalu, kenapa masih ingin keluar? Tentu saja ingin sebuah kebebasan, hiburan dan variasi hidup yang sejatinya adalah kebutuhan wajar.

Mengejar secuil ‘merdeka’ ternyata menghasilkan fenomena. Tercatat dalam buku merah amnil ‘ammah bahwa pelanggaran paling banyak adalah tentang keluar gerbang tanpa izin. Dengan alasan tidak cocok berobat ke UKS, ingin berobat ke RS, proses menembus perizinan pun diperjuangkan. Surat izin berlapis harus didapatkan. Mulai dari keamanan komplek, keamanan Am sampai ke Bu Nyai.

Setelah mengantongi izin maka bersiaplah berangkat menembus sekat. Satu santri yang sakit aturan mainnya adalah satu pengantar. Tapi kadang-kadang masih diakali dengan membengkaknya pengantar, belum lagi deret panjang daftar titipan teman-teman sekamar. Cerita yang berulang-ulang tetap menjadi cerita. Sedianya ke RS kadang ada yang korupsi menambah perjalanan kebebasan itu menuju pasar, minimarket, malah ada yang main ke rumah teman atau pulang ke rumah. Hmm, penyelewengan yang cepat atau lambat akan menjadi bumerang.

Kelanjutannya? Tentu saja arena ta’ziran yang menjadi ending-nya. Percaya atau tidak jika anda menjadi santri maka dinding, tiang, genting bahkan tanah dan udara seolah punya mata dan telinga. Sehingga pelanggaran apapun yang mencoba disembunyikan  pasti akan ketahuan.

Sedikit momen yang masih terekam.
Jumat siang di beranda kamar. Tempat kami berbincang dan berkumpul saat senggang. Fifi (nama samaran), teman unik kami baru kembali dari perjalanannya menikmati ‘kebebasan’.
“Cerita baru apa, Fi yang kamu dapat dari luar?” tanya kami yang suka sekali mendengar cerita-cerita serunya. Fifi senyum-senyum tapi manyun. Aneh.
“Hehehe, aku tadi mampir pulang lho, lumayan…“ Tak ayal semua terkejut meski maklum juga, rumah Fifi di Bojonegoro memang dekat jarak tempuhnya dari pesantren kami yang lokasinya di perbatasan 3 kota yaitu : Lamongan, Tuban dan Bojonegoro.

“Tidak dimarahi Bapakmu, Fi?” tanya Ninis.
“Ya iyalah, aku dipukul pake suthil[1] sampe bengkok hehe,” lanjut Fifi sambil cengengesan. Aku terkekeh bercampur heran, kok bisa sih bercerita miris seperti itu sambil tertawa?
“Tapi jangan khawatir, masih dibawain oleh-oleh makanan kok buat balik...”
“Asyiiiiikkk!” sambut heboh anak kamar. Masya Allah selalu heboh menyambut makanan.
“Kapok tidak?” tanyaku serius.
“Hehehe.... kapok Mbak, ntar kalo mengulang lagi pulang tanpa izin pasti nasib si wajan yang apes, bisa jadi trepes[2] itu wajan hehe.” Fifi masih saja cengengesan. Disambut tawa meriah oleh yang lain.

‘Merdeka’ jika saja dapat diartikan dengan lebih bijak, dan jika saja saya juga mampu untuk itu. Ketika keinginan menghirup udara luar itu memuncak, ketika merasa dalam titik klimaks rasa bosan dan bete. Biasanya saya lari ke gedung madrasah lantai tiga. Memuaskan pandangan ke arah langit dan udara. Mengingat kembali sebuah rumus; ’jika menginginkan sesuatu dalam sebuah tempat maka harus mengikuti aturan mainnya.’ Maka menangis dan menulis ternyata juga menjadi jalan keluar yang fantastis. Karena setelah itu terasa plong dan bersemangat kembali.

Dan acara tujuh belasan di kampung santri? tetap sama seperti hari biasanya. Hanya membaca tahlil pada malam sebelumnya untuk berkirim do'a pada para pahlawan. Sementara keesokan harinya pada hari H yang biasanya semarak dengan lomba-lomba meriah pun tak ada. Lomba-lomba sudah diadakan pada bulan Muharam dalam memperingati tahun baru islam. Sungguh hanya seperti hari biasa,..  Namun ternyata ada juga penandanya yang saya baru menemukan pada malam hari. Penanda bahwa hari itu adalah kemeriahan hari kemerdekaan.

Lalaran (senandung) nadhoman pada malam harinya berubah menjadi berirama lagu nasional (biasanya irama klasik khas sholawatan)
Tujuh belas agustus tahun empat lima... itulah hari kemerdekaan kita.. hari merdeka nusa dan bangsa... hari lahirnya bangsa indonesia... meeerdeka..

Sambil menggebrak bangku, dentingan sendok, bahkan galon air mineral menjadi alat musik norak tapi lumayan meriah dan mengobati jengah saya yang sejak pagi menyangka tak akan ada sedikitpun aroma kemeriahan. 

Kini, bolehkah saya mencoba memaknai bahwa merdeka itu adalah bersyukur dengan yang ada pada diri dan sekeliling kita tanpa membandingkannya dengan image yang dikatakan oleh dunia. Kita tidak akan ngotot mencari rasa ‘merdeka’ itu jika saja arti merdeka itu dikuasai oleh kebijakan indra jiwa.
Merdeka! (*)







[1] Spatula untuk menggoreng.
[2]  Datar/rata.


 Tulisan ini diikutkan dalam GA  Kontes Kenangan Bersama Sumiyati-Raditcelluler

19 komentar:

  1. hahahaha kalau tiga kali nekat balik pasti mbak Fifi itu bakalan digampar kompor mbak.

    Yups.. memaknai merdeka tentunya dengan mensuykuri apa yang sedang kita capai selama ini dan mengintrospeksi semua kekurangan yang ada sekaligus membenahinya bersama

    sukses kontesnya mbak.. Merdeka..!

    BalasHapus
  2. hehe iya kali mas..
    makasih sdh mampir...
    :)

    BalasHapus
  3. mbak fifi nekad juga ya ...demi mendapatkaan kebebasan rela dipukul pake suthil, sipp tulisannya,terima kasih sudah tercatat dalam Kontes Kenangan, matur nuhun sanget :)

    BalasHapus
  4. hihihi... seruuuu... ceritanya ^_^

    gutlak yah Mbak untuk GA nya..

    BalasHapus
  5. Jadi ingat kisah para santri di novel negeri 5 menaranya A. Fuadi hehe gutlak mb u kontesnya :)

    BalasHapus
  6. waahh pengalaman hidup yang sangat sangat menarik dan berharga ..
    semoga berjaya di GA ya, mbak :)

    BalasHapus
  7. untung ga disuruh nyuci baju kotor buat bakti sosial:) selamat dan semoga menang di kontes Bunda Sumi ...

    BalasHapus
  8. Blogwalking... Saya juga mondok di pesantren beberapa tahun yang lalu. Jadi kangen suasananya yang adem di hati, kebersamaan, dan ngantri mandinya.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih kunjungannya.. jangan kapok mampir lagi.. sesama santri yg punya memori antri mandi :D

      Hapus
  9. ssstt..., ini rahasia... saya pernah melompat pagar tembok samping kamar hanya gara-gara ingin lihat film karate di gedong bioskop depan kebonrojo, trusss.... pagi-pagi betul ada panggilan kalo saya harus menghadap Pak Kiai, jeblerrr.... (siapa yang bilang ya....) lalu Pak Kiai berbicara dengan bahasa Jawa yang halus, duh... duh... semakin merasa bersalah dan terpojok-pojok diri ini....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ohya, kalo komen di blog saya rechaptanya masih muncul ga ya Mbak?

      Hapus
    2. hihi ternyata.. insyaAllah rahasia aman kok :D..

      oh iya rechaptanya sdh ga ada lancar lancir sdh komennya. Lupa nls komennya dulu.. maaf

      Hapus

Komentar kamu adalah penyambung silaturrahmi kita, maka jangan ragu meninggalkan jejak :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...