Minggu, 04 Agustus 2013

Marmut...



Suatu senja, saatnya berbuka puasa..
Ayahnya Fahri yang tadinya berangkat ke musholla tiba-tiba balik pulang dengan membawa seekor marmut kecil dan menunjukkannya kepada Zahra.
"Digigit kucing, dibawa lari-lari terus kuambil.. kasiyan.." certa suami saya.
Wew.. jadi kami kontan memeliharanya meskipun tak punya kandang. Suami saya menaruh marmut kecil itu di dalam kardus, dan saya memberi makanan apa adanya, mengambilkan sayuran yang tersedia di kulkas, waktu itu adanya cuma sawi putih.

Sembari tanya-tanya ke tetangga, cari info siapa yang punya piaraan marmut, hewan kecil itu tetap berada di rumah kami. Lucu sekali ya ternyata dia.. kalau dilihat dan ditungguin dia diem saja.. entah malu entah takut. Tapi kalau ditinggal pergi diam-diam dia mau maem dan bergerak-gerak.. "Krauks.. krauks" gitu suaranya. Mirip seperti novel anak-anak -Petualangan Ciki Kelinci- punya mbak Shabrina WS.


Tapi mungkin dasarnya saya memang nggak telaten miara binatang, marmut itu kian hari kian kurus. Sementara kami dapat info beberapa nama orang yang punya marmut sekitar kami, tapi belum ada waktu buat mengecek ke mereka. Apalagi mengantar untuk mengembalikannya, agar dia lebih terurus dengan baik.. huhu siang-siang pas waktu senggang Ramadhan panas banget, lemes pula... jadi meski jaraknya gak sampai kiloan meter tetep saja ada rasa males untuk pergi keluar rumah.

Hingga belum ada seminggu, marmut itu mati dirubung semut.. hiks hiks hiks.. sedih dan nyesel sekali rasanya. Sehari sebelumnya saya ada perasaan nggak enak melihat marmut itu banyak dikerubutin semut di badannya tapi kayaknya nggak berontak padahal masih hidup. Eh esok harinya dia mati...

Saya memang bukan termasuk pemerhati dan penyayang binatang. Namun tetap ada rasa sedih melihat mahkluk hidup bernyawa harus mengalami jalan kematian yang mengenaskan. Meskipun marmut.. dan apalagi manusia...

#Tiba-tiba teringat foto-foto korban anarkisme di mesir, yang dishare teman-teman di beranda facebook. Korban kisruh politik yang bergolak.  Do'a saya untuk mereka, smoga diterima disisiNya dan negeri itu kembali menjadi damai dan menjadi kota ilmu yang dipimpin oleh penguasa yang amanah. Amiiin


4 komentar:

  1. Kayaknya kalau marmut itu tak terlalu doyan sayuran, lebih suka rerumputan. Beda dengan kelinci yang suka sebaliknya (pengalaman waktu kecil pernah memelihara marmut dan kelinci) :)

    BalasHapus
  2. Kasian marmutnya ya, Mba. . .

    BalasHapus
  3. pak jun : wah baru ngerti sih.. sy gak pernah punya binatang piaraan hehe gak telaten
    idah : hu uh.. :(

    BalasHapus
  4. Huaaa, kasihan marmutnyaaaa... Hiks, hiiksss T_T

    BalasHapus

Komentar kamu adalah penyambung silaturrahmi kita, maka jangan ragu meninggalkan jejak :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...