Senin, 10 Desember 2012

Petikan perjalanan 2012 menuju 2013

Sudah mau ganti tahun lagi ya? perasaan baru kemarin deh saya nulis di blog ini juga tentang pergantian tahun 2011 ke 2012. Dulu dengan sumringah saya menuliskan tentang membuka dan dan menutup tahun dengan buku.. hiks.. jauh berbeda sekali dengan saat ini. Saya menutup tahun tanpa satupun bisa memegang buku yang didalamnya ada tulisan saya. Terbit terakhir sudah agak lama, beberapa bulan yang lalu, antologi tentang ibu dari penerbit GIP.

Buku Semiliyar cinta untuk bunda, PJ mbak Oci dari mojokerto.



Ringkasan kisah saya di 2012 sebenarnya nggak terlalu suram sih. Dalam hal keluarga dan perekonomian alhmadulillah. Meskipun bukan mutlak dinamakan pencapaian, toh semua itu adalah pemberian dari Allah SWT, tanpa kemurahan dariNya niscaya kami bukanlah apa-apa. Dalam keluarga.. sungguh saya menamakannya sebagai kisah yang sempurna. Bagaimana tidak? dalam kurun hampir 8 tahun perjalanan pernikahan kami, kami sudah dianugerahi berbagai rezeki yang indah, sesuai dengan kebutuhan bukankah disebut dengan indah?. Kami butuh rumah, alhamdulillah sudah diberikan rumah dengan caraNya yang tak termasuk dalam prediksi rencana kami sebagai manusia. Kemudian kami juga diamanahi 2 pasang anak-anak yang manis. Dengan jenis kelamin sepasang laki-laki dan perempuan.. orang yang melihat banyak yang bilang dan berkomentar 'udah klop tuh punya anak cowok dan cewek'... padahal dalam hati saya sih berkata 'meski sudah sepasang kayaknya kurang rame deh, masih mau nambah ah.. ' hehehe..

2012 secara ekonomi kami juga diberikan kemudahan. Jika diibaratkan mata air, bisa dikata pada tahun tersebut alirannya lumayan deras dan sejuk. Karena pada kalkulasi setelah lebaran (waktunya kami bisa mengetahui laba rugi setahun berdagang pakaian) kami masih punya sisa yang cukup untuk membeli motor lagi dan menanam modal lagi alias kulakan barang dagangan untuk diputar kembali. Sungguh pas sekali dengan kebutuhan, ketika kami memasukkan Fahri ke sekolah yang letaknya agak jauh dari rumah. Harus antar jemput setiap harinya. Jadi dengan bisa membeli motor lagi artinya adalah, suami saya bisa ke pasar dengan tenang tanpa tuntutan segera pulang untuk menjemput Fahri, dan saya juga tidak tersiksa rasa malu dan sungkan jika suami belum pulang dan terpaksa harus meminjam sepeda motor untuk menjemput anak. Alhamdulillah saya bersyukur sekali untuk itu.

Kemudian dalam hal kepenulisan. Meski terkesan suram dan terlihat tak menghasilkan apa-apa.. sebenarnya saya masih terus berproses tanpa terlihat di permukaan. Yang diketahui di permukaan adalah hasil.. dan tentu saja hanya 'hasil' yang bisa membuat orang lain tahu bahwa kita sudah berkarya bukan?. Bulan-bulan awal 2012 yang lalu naskah saya berupa kumpulan kisah selama di pesantren sudah diACC sebuah penerbit mayor dari Jakarta. Sudah tanda tangan dan dikirim honor penuh namun hingga sekarang masih belum dicetak juga. Padahal naskah itu sungguh berarti banget bagi saya. Bisa dikata itu adalah sebuah lompatan yang cukup bagus, karena sebelum sebelumnya saya hanya terbit lewat karya bareng-bareng dengan teman dalam sebuah buku antologi. Sedangkan kumpulan kisah di pesantren itu 75% adalah tulisan saya, kemudian selebihnya adalah kisah teman-teman santri yang saya minta lewat inbok facebook. Kumpulan note FB yang dulu rutin saya tulis itu disukai oleh penulis senior (teh Pipiet Senja) dan beliau membantu segala sesuatunya hingga ACC sebuah penerbit (makasih banget saya haturkan pada beliau..). Hingga kini, setelah honor sudah saya bagi pada kontributor yang saya mintai tulisan, kemudian jatah saya sendiri juga hampir habis.. ternyata naskah itu belum cetak juga. Hiks.. OMG.. saya bukan bermaksud apa-apa dengan menuliskan kegalauan dan kegelisahan ini, karena satu sisi harap-harap cemas bercampur senang menunggu cetak yang dikabarkan sedang progres, di satu sisi saya malu pada endorser yang sudah nanya-nanya kapan terbit bukunya.

Ya, saya hanya pasrah menunggu. Toh ada juga teman penulis lain yang naskahnya juga sedang progres di penerbit tersebut (diantaranya adalah mbak Leyla Imtichanah dengan antologi Mertuaphobia, mbak Naqiyyah Syam dengan antologi Lansia, dan mbak Shabrina WS dengan novel anak dan antologi hewan isnpiratifnya. Doakan yaaa semoga penantian kami kami pada akhirnya berbuah manis di tahun 2013 nanti. Amiiin...

Nah, sekarang resolusi saya untuk 2013 adalah :
Tentang Ekonomi dan keluarga saya selalu berharap agar selalu menjadi kisah yang sempurna. Iya, sempurna maksud saya adalah sempurna dalam pemikiran kami, dalam penerimaan kami. Yang mana arti sebenarnya adalah Apapun nanti yang kami hadapi, baik kesenangan maupun kemalangan hendaknya kami tetap menjadi manusia yang pandai bersyukur dan mampu mebaca kisah yang menjadi jatah hidup kami sebagai kisah yang sempurna. Begitulah, sederhana saja meski terkadang realisasinya tidak mudah.
Jikapun diizinkan merencanakan sebuah target, inginnya kami adalah kelak usai lebaran bisa mendapatkan sisa usaha yang cukup untuk membeli mobil (bekas pun tak apa-apa, asalkan bisa membeli tunai tanpa terbebani memikirkan tanggungan kredit). Untuk transportasi dan keperluan usaha suami, agar dia bisa membawa lebih banyak barang saat kulakan atau mengirim ke pasar.

Zahra bersama pagi, mengiring kepergian Ayahnya menjemput rezeki, motor dan dagangan sudah siap menunggu pengemudinya yang masih mandi ^^..

Kemudian rencana saya untuk kuliah lagi bagaimana ya? karena beberapa waktu lalu sempat dijanjikan dukungan materi oleh orang tua, mereka bertujuan mendukung hobi menulis saya, mungkin menebus masa lalu, yang mana mereka tak pernah percaya kegiatan menulis saya itu bermanfaat. Mereka baru percaya dan setelah saya menunjukkan hasil terbitan antologi dan tulisan di majalah. Orang tua saya mau membiayai kuliah yang dimungkinkan mendukung dunia kepenulisan saya.. ohoho, setelah punya 2 anak gitu loh. Jujur saya senang namun juga banyak memikirkan hal hal yang pasti tidak mudah menjalaninya nanti.

Untuk melakukan sesuatu yang serius (masuk kuliah lagi setelah adem ayem 8 tahun jadi emak-emak itu sangat serius bukan? ^^) saya harus punya niat dan tujuan. Saya tidak berangan-angan sama sekali untuk mengejar gelar sarjana sebagai embel-embel nama saya untuk kemudian keluar dan bersaing di dunia kerja, lebih baik belajar berwir usaha bersama suami secara bertahap. Jadi saya bingung menentukan niat dan tujuan apa ketika harus mengambil tawaran kesempatan yang diberikan orang tua. Toh, ilmu menulis ternyata bertebaran gratis di dunia maya, banyak penulis-penulis yang tidak pelit berbagi ilmu, info bahkan kesempatan-kesempatan bagus untuk saya ambil.. gratis tis tis. Jadi, saya bulat memutuskan untuk tidak jadi mengambil kesempatan itu sekarang. No kuliah tetap bahagia, insyaAllah.

Jadi lebih baik janji dukungan itu (materi yang sudah dijatahkan) saya gunakan untuk yang lain... naik haji misalnya hehe.. (doa yuuuk..!!). Lagi pula melihat teman-teman sepantaran dan yang dulunya se almamater sekolah atau pesantren sudah sama punya bayi lucu dan terus menambah anak, jujur saya sudah sangat ingin berencana menambah momongan. Menepatkan waktu sesudah anak kami yang kedua masuk sekolah. Smoga dimantapkan niat dan dimudahkan jalannya ya..  Amiin...

Fyuhh.. banyak banget ya saya cerita curhatnya... (yang sudah bosen boleh berhenti deh, ngemil-ngemil dulu hehe..)

Kemudian dalam dunia pena bagaimana? sungguh saya tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin menjalaninya dengan santai tanpa target apa-apa.

Sungguh penting bagi saya membersihkan niat dalam menulis, jika menulis yang isinya bertujuan menginspirasi sungguh harus dijauhkan dengan tujuan materi dan rasa ingin dikenal, dikenang dan dipuji. Sementara ini jujur saya belum mampu. Selalu terselip di hati tujuan ingin honor, royalti atau hadiah-hadiah. Menganggap materi dan ketenaran sebagai efek samping kerja atau hobi menulis itu sebuah pencapaian ruhani yang luar biasa, yang telah didapat oleh orang-orang-orang pilihan. Sungguh tidak mudah melakukannya.

Jadi? iya saya tetap menulis, berharap naskah-naskah yang dijanjikan terbit itu bisa benar-benar terbit. Menunggu sembari berburu lomba dan kesempatan. Saya akan berusaha supaya hobi dan kesukaan menulis saya tidak sia-sia agar bisa mencapai sebuah fase bisa membersihkan niat itu. Sedikit demi sedikit harus mau berusaha bukan? saya tetap memilih dengan selektif tema apa yang sekiranya nanti tulisan saya yang dilombakan ada  manfaat, tidak menjadi sekedar tulisan yang sia-sia atau malah menyesatkan (na'udzubillah).

Namun ada juga resolusi yang sangat penting sekali harus saya agendakan sebelumnya yaitu tentang mengurangi candu dunia maya yang saya rasakan kian menjerat. Facebook dan blog seolah-olah menjadi candu kuat dalam hari-hari saya. Setiap membuka lepi selalu membuka dan menjelejah keduanya. Kemudian terkadang berakhir dengan menutup lepi dengan sisa rasa gelisah dan galau karena selama layar itu terbuka saya belum menghasilkan tulisan apa-apa.. hiks, miris sekali bukan.

Yup dengan berkaca dan mengambil pelajaran dari taun 2012 maka 2013 harus menjadi tahun pengendalian diri saya di dunia maya, menjadi tahun merenung tentang maksud dan tujuan saya di dunia pena. Kemudian tetap menjadi tahun yang memiliki kisah 'sempurna' dalam ekonomi dan keluarga saya.
Amiin..

***

Terima kasih buat mbak Windi Teguh yang sudah mengadakan GA sehingga memancing saya menuliskan hal ini. Terima kasih juga sudah sering berbagi tentang info lomba blog, dari sanalah saya lebih mengenal sosok mbak yang enggak pelit info dan tak takut nambah saingan peserta lomba hehe.. smoga suatu saat bisa kopdaran dan smoga berkah selalu ya aktivitas ngeblog kita.. amiiin.






5 komentar:

  1. aamiin..semoga rencana untuk menambah momongan di tahun 2013 diijabahkan Allah... selagi muda dan kuat dan sehat...:)

    aamiin juga semoga bisa berangkat haji.. (dan mengaamiinkan untuk diri saya sendri juga).

    BalasHapus
  2. candu dunia maya memang bahay ya mba. tapi aku belum bisa lepas darinya huhuhu. ah semoga mba binta ngga bener2 out dr dumay, hilang dong satu sodaraku ntar :)

    Semoga resolusi ekonominya tercapai ya mba, dan dpt momongan juga, aamiin

    BalasHapus
  3. saya mengucapkan banyak terimakasih kepada KI HADAK yang telah menolong saya dalam kesulitan,ini tidak pernah terfikirkan dari benak saya kalau nomor yang saya pasang bisa tembus dan ALHAMDULILLAH kini saya sekeluarga sudah bisa melunasi semua hutang2 kami,sebenarnya saya bukan penggemar togel tapi apa boleh buat kondisi yang tidak memunkinkan dan akhirnya saya minta tolong sama KI HADAK dan dengan senang hati beliau mau membantu saya..,ALHAMDULIL LAH nomor yang dikasi KI semuanya bener2 terbukti tembus dan baru kali ini saya menemukan dukun yang jujur,jangan anda takut untuk menhubungiya jika anda ingin mendapatkan nomor yang betul2 tembus seperti saya,silahkan hubungi KI HADAK DI 085=259=457=111 ingat kesempat tidak akan datang untuk yang kedua kalinya dan perlu anda ketahui kalau banyak dukun yang tercantum dalam internet,itu jangan dipercaya kalau bukan nama KI HADAK
    BUKA INI DANA GHAIB TOGEL










    saya mengucapkan banyak terimakasih kepada KI HADAK yang telah menolong saya dalam kesulitan,ini tidak pernah terfikirkan dari benak saya kalau nomor yang saya pasang bisa tembus dan ALHAMDULILLAH kini saya sekeluarga sudah bisa melunasi semua hutang2 kami,sebenarnya saya bukan penggemar togel tapi apa boleh buat kondisi yang tidak memunkinkan dan akhirnya saya minta tolong sama KI HADAK dan dengan senang hati beliau mau membantu saya..,ALHAMDULIL LAH nomor yang dikasi KI semuanya bener2 terbukti tembus dan baru kali ini saya menemukan dukun yang jujur,jangan anda takut untuk menhubungiya jika anda ingin mendapatkan nomor yang betul2 tembus seperti saya,silahkan hubungi KI HADAK DI 085=259=457=111 ingat kesempat tidak akan datang untuk yang kedua kalinya dan perlu anda ketahui kalau banyak dukun yang tercantum dalam internet,itu jangan dipercaya kalau bukan nama KI HADAK
    BUKA INI DANA GHAIB TOGEL

    BalasHapus

Komentar kamu adalah penyambung silaturrahmi kita, maka jangan ragu meninggalkan jejak :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...