Kamis, 04 Oktober 2012

Harapan dan Sumbangsih Kecil untuk PLN

Siapakah penemu listrik?
Saya masih ingat dengan jelas ketika SD guru IPA saya mengatakan bahwa penemu listrik itu tidak diketahui. "Loh,Thomas A Edison itu?" protes saya. Beliau menjawab bahwa Thomas A Edison itu yang menemukan bola lampu listrik. (catat! jadi dia bukan penemu listrik). Allesandro Volta juga bukan penemu listrik, dia adalah penemu voltac pile (cikal bakal baterai). Percobaan orang yunani kuno yang menggosok batu ampar dengan kain wol juga tidak ketahui secara spesifik siapa gerangan orangnya. Hans Christian Oersted juga hanya menemukan bahwa energi listrik bisa mengubah besi menjadi magnet. Sementara Michael Faraday adalah kebalikannya, dia menemukan bahwa magnet yang digerak-gerakkan bisa berubah menjadi energi listrik. Dasar pembentukan sifat  energi listrik yang bisa diubah menjadi  energi gerak, cahaya, panas, dingin, magnet dan lain-lain belum diketahui siapa yang menemukan pertama kalinya.

Nah jika pertanyaannya diganti begini : siapakah yang menguasai listrik (di negeri kita)? jawabannya semua pasti tahu. Ya, benar sekali, PLN alias perusahaan listrik milik negara.


PT PLN sejak dulu giat menggalakkan program hemat energi. Sering terlihat iklannya di TV maupun radio, penghematan energi berarti penghematan biaya dan juga berbuat baik terhadap lingkungan alam. Saya setuju sekali dengan hal itu. Karena saya sudah meresakan betapa membantunya energi listrik untuk kehidupan manusia. Sebut saja secara sederhana dalam kehidupan saya sebagai ibu rumah tangga. Dulu jika ingin mandi atau mencuci harus menimba air dulu dari sumur. Saya masih ingat sumur sangat tradisional pada zaman dahulu yang memakai sistim jungkit. Dengan bambu panjang dan pemberat batu-batu besar di ujungnya. Ketika digunakan untuk mengambil air suaranya sangat khas sekali yaitu : kriyeeet kriyeet....



Gambar berasal dari SINI.




Agak modern lagi adalah sumur dengan menggunakan katrol, lebih praktis dan tidak memakan banyak tempat.


Gambar berasal dari SINI. 

Sekarang sudah dimudahkan dengan pompa air dengan tenaga listrik. Tinggal putar keran dan mengucurlah air sesuai kebutuhan kita.


Kemudian untuk kegiatan memasak. Seperti menghaluskan bumbu juga tidak lagi perlu mengeluarkan banyak tenaga dengan mengulek diatas cobek, sudah ada mesin blender yang tentu saja juga dengan bantuan listrik. Mencuci manual yang lumayan melelahkan juga sudah bisa digantikan mesin cuci sekaligus pengeringnya. Singkat kata, listrik itu sangat memudahkan kehidupan manusia dalam berbagai urusan profesinya.


Namun miris, ternyata kenyataanya listrik belum menyebar secara merata kepada seluruh rakyat indonesia. Di beberapa daerah terpencil masih banyak penduduk yang belum bisa merasakan fasilitas listrik. berdasarkan berita yang saya baca di sindonews.com, sekitar 28 persen dari populasi penduduk jawa barat ternyata belum menikmati aliran listrik. Padahal beberapa pembangkit listrik ada di wilayah jabar. Wah, padahal itu masih di dalam pulau jawa ya, bagimana dengan yang di pedalaman-pedalaman luar pulau jawa? prediksi saya pasti bisa melebihi 28 persen populasi penduduknya yang belum menikmati fasilitas listrik. Miris... Itu artinya ketika kita yang berada pada salah satu belahan negeri Indonesia ini sudah bisa enak menikmati segala kemudahan listrik, sudah bisa keliling dunia dengan facebook, twitter, blog walking rupa-rupa berselancar info di dunia maya. Rupanya di belahan yang lain saudara kita masih merasakan 'tidak enak'nya hidup tanpa listrik.


Ya, sungguh tidak enak hidup tanpa listrik. Saya pernah merasakannya ketika masih kanak-kanak. Saat kampung saya sudah diterangi listrik, kampung kakek nenek saya masih gelap gulita. Saya sering ketakutan jika malam tiba.


Jika pajak selalu dipropagandakan 'wajib' bagi warga negara yang baik. Maka harapan terbesar saya kepada negara, kepada PLN adalah semoga pelayanannya juga bisa merata kepada seluruh masyarakat Indonesia, baik yang ada di kota maupun di pedesaan. Seluruh saudara setanah air sungguh berhak sama menikmati gencarnya pembangunan setelah kemerdekaan. Bukankah itu adil menurut teori keseimbangan hak dan kewajiban? Dengan memaklumi bahwa kerja mengolah dan mendistribusikan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui tersebut merupakan pekerjaan yang tidak mudah (bahkan pasti rumit dan berat) namun kami sungguh mengharap kinerja yang fokus pada pemerataan tersebut semakin ditingkatkan lagi. Kemerdekaan adalah untuk semua lapisan masyarakat, dan mendapatkan pelayanan dari abdi negara juga hak yang patut didapatkan setelah melaksanakan kewajiban sebagai warga negara dengan baik.



Gambar berasal dari SINI.

Harapan kedua, mungkin sama seperti harapan banyak orang. Yaitu supaya PLN lebih meminimalkan pemadaman tiba-tiba, karena berbagai kerugian sudah pasti dirasakan oleh masyarakat yaang menjadikan listrik sebagai pijakan usaha. Contoh kecilnya seperti halnya Bapak saya yang bekerja sebagai peternak ayam. Setiap hari harus memberi minum ayam-ayam yang berjumlah ribuan ekor, biasanya menggunakan pompa air. Namun ketika listrik padam (ada kalanya hingga beberapa hari) Bapak harus menimba air secara manual dari sumur lama kami. Mengangkatnya air ke kandang sedikit demi sedikit sungguh menguras waktu dan tenaga yang berlipat-lipat banyaknya.


Dan, harapan yang ketiga adalah, tentang tulisan yang tercetak besar-besar di depan kantor PLN yang ada di kota saya. -PLN bebas KKN-. Semoga tulisan yang tercetak besar-besar tersebut bisa direalisasikan sebenar-benarnya dalam semua sistim kepengurusan. Amiin...


Yup, saya sudah mengulas cukup panjang tentang harapan dan keinginan saya terhadap PLN. dan untuk menyeimbangkan, sekarang saya juga ingin sejenak menuangkan ide sebagai sumbangsih kecil kepada PLN. Sebuah ide yang mungkin agak nyeleneh namun beberapa waktu sempat saya praktekkan demi mendapatkan sensasi dan warna baru dalam rutinitas keseharian saya. Hmm.. bukankah terkadang manusia itu ingin menantang adrenalin diri sendiri dengan melakukan hal-hal aneh, mencari apa-apa dari masa lalu yang sekarang sudah jarang ada.


Memang hidup sudah dimudahkan dengan berbagai kecanggihan alat-alat hasil penemuan manusia. Namun mari mencoba sejenak untuk sesekali tidak bergantung pada alat-alat listrik. Selain melakukan pengehematan listrik dengan menggunakan sesuai kebutuhan, sesekali saya melakukan hal hal seperti mengulek bumbu sayur lodeh tanpa menggunakan blender, mencuci pakaian secara manual meski sudah ada mesin cuci, memarut kelapa meski parut mesin di penjual sayur sangat murah sekali ongkosnya dan hal-hal lain semacam itu (yang intinya libur sejenak bergantung pada alat-alat listrik). Sepele memang, namun jika itu dilakukan secara berkala juga akan menambah porsi sumbangan penghematan yang saya lakukan. Dengan berkegiatan tersebut sesekali saya merasa seolah kembali menjadi orang zaman dulu yang apa-apa selalu tangkas dikerjakan sendiri. Saya mendapatkan sensasinya, penghematan biayanya, sekaligus olah raga gratis mengeluarkan keringat sehat tanpa perlu ke pusat kebugaran yang diharuskan membayar.

Bahkan saya juga mempunyai angan-angan untuk mengajak suami membuat atau menggali sumur tradisional yang menggunakan katrol, seperti yang ada di rumah Bapak saya dulu. Bukankah gerakan menimba air itu mirip dengan olah raga angkat barbel itu ya he he he.. setidaknya tetap saja menimba air termasuk gerak tubuh yang bermanfaat.

Ya, ide saya adalah... mengajak anda untuk sesekali libur ketergantungan terhadap alat-alat listrik. Seminggu sekali, sebulan sekali atau seingat dan sesempatnya (lebih banyak dan sering pastilah lebih baik). Percayalah, kelihatan sepele namun akan sangat berguna. Bukankah sedikit dari saya ditambah sedikit dari anda, anda dan anda teman-teman semua lama-lama akan terkumpul menjadi bukit?... anda berani? Cobalah dengan mengingat untuk mewariskan sesuatu yang berharga untuk anak cucu kita. Listrik itu mahal, saudara-saudaraku !!


***


Refrensi :

1. http://id.wikipedia.org/wiki/Alessandro_Volta
2. http://ridwanaz.com/umum/sejarah/sejarah-penemuan-listrik-dan-macam-sumber-energi-listrik/
2. http://daerah.sindonews.com/read/2012/09/26/21/675076/28-persen-warga-jabar-hidup-tanpa-listrik

**


Tulisan diikut sertakan dalam Kontes Blog #harapanku untuk PLN. Info lengkapnya klik http://akudanpln.blogdetik.com/kontes-blog-harapanuntukpln-berhadiah-motor/


*

17 komentar:

  1. Sangat inovatif dan kreatif... Semoga bermanfaat untuk semua ya Mba :)

    BalasHapus
  2. amiin.. makasih kunjungannya donie :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak hana, sdh kembali berkunjung dimari :)

      Hapus
  3. Mantap tulisannya mbak. Inspiratif :)
    Semoga menang ya mbak. Ntar jangan lupa bonceng saya pakai motor :D

    BalasHapus
  4. qiqiqiq.. amiiiin mbak, tumpukan doa banget.. klo boncengin mbak elyn brrt sy bs nyampe ke thailand :D

    BalasHapus
  5. Wow... ulasannya khas Mbak Binta deh, sukaaa...
    gutlak yah Mbak ^_^

    BalasHapus
  6. siip bgt mbak binta tas ulasanya,,
    GOOd Luck,,

    BalasHapus
  7. baguss2.,,
    semoga jdi pemenang deh.,
    SUKSES selalu., ;)

    BalasHapus
  8. boleh Mbk lucu Pgalamanx sbgai ibu RT,,,,
    LANJUTKAN!!!!hheee....

    BalasHapus
  9. untung saya anak koz, gk sekali-sekali tp banyak kali eh salah sering kali manual, dari nyuci, masak, ngulek dll kecuali nimba air gk da katrol soalx, n ngetik gk ada mesin tek-nya,,hehehhe
    alhamdulillah akhirnya bisa bermanfaat "walau tidak merasa" kususnya bagi PLN,,,wkwkwkwk
    makasih mbak infonya,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih kembali... lanjudkan ya yg manual2 itu :)

      Hapus
  10. Lagi ikutan kontes blog PLN ya mba? moga menang ya mba.
    di tunggu kunjungan baliknya ya mba di pondoklukman

    BalasHapus

Komentar kamu adalah penyambung silaturrahmi kita, maka jangan ragu meninggalkan jejak :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...