Minggu, 07 April 2013

Memeluk sepenuh waktu pada usia emas.

Usia emas pada lima tahun pertama adalah sesuatu yang tak akan terulang seumur hidup. Sehingga saya ingin berusaha memeluk sepenuh waktu pada anak-anak saya dalam usia tumbuh kembangnya. Melihat perkembangan anak dari menit ke menit saja rasanya sungguh seperti melihat keajaiban-kejaiban baru yang terus dilimpahkan. Rugi sekali rasanya ketika anak kita mulai bisa bicara yang mendengar kata pertamanya adalah orang lain, begitu juga ketika mulai bisa berjalan, ketika bisa melepaskan pegangan jemari kecilnya saat menitah kemudian menyaksikan langkah pertamanya yang masih kaku dan takut-takut jatuh itu kalau bisa saya sebagai ibunya lah yang memberikan pertama kali menyambutnya dengan kata-kata penyemangat "ayo bangkit sayang, jangan takut jatuh!".

Kedua anak saya Fahri dan Zahra alhamdulillah tumbuh normal dan sehat, Fahri mulai bisa berbicara dan berjalan tepat pada usia 13 bulan secara bersamaan. Sedangkan Zahra malah 12 bulan sudah bisa, secara bersamaan juga antara mulai jalan dan bicara.

Fahri dan Zahra


Kecerdasan dalam tumbuh kembang anak sungguh bukanlah karena faktor genetik semata, sebab pengalaman saya dulu sempat ge-er dan nyantai saja saat mertua saya bilang Ayahnya Fahri Zahra dulu 9 bulan sudah bisa berjalan. Wah, banyak yang bilang pasti anak-anak saya juga bisa secepat itu perkembangan 'bisa jalan'nya. Saya senang sekali mendengarnya, namun setelah usia sembilan hingga sepuluh bulan Fahri belum ada tanda-tanda mulai mau berjalan sendiri tanpa dititah (dipegangi jari tangannya), saya mulai panik dan berpikir logis, "Oh ternyata salah kalau tumbuh kembang anak itu bisa terjadi secara genetis tanpa stimulasi dari orang-orang terdekatnya".


Maka saya pun mulai gencar memberi stimulasi dan dorongan semangat. Memang dia belum bisa bicara menirukan kata-kata orang dewasa, tapi saya yakin lewat ekspresi wajah si kecil saya tahu kalau sedikit banyak akan faham apa yang saya ucapkan. Saya terus berikan kata-kata motivasi pada Fahri kecil berupa kata-kata "Ayo jalan sendiri, nak!"... "Ayo dilepasin pegangannya sebentar saja!".

Selain memberikan stimulasi dari luar (untuk psikisnya) saya juga berusaha memberikan stimulasi dari dalam (untuk fisiknya). Yaitu memberikan gizi terbaik dalam makanan dan minumannya. Dari informasi yang saya baca, yang sangat membantu memicu perkembangan otak bayi dan balita adalah makanan yang mengandung DHA (Docosahexaenoic acid), salah satu asam lemak omega 3. Seperti yang terdapat dalam Vitamin Seven Seas. yang mana di dalamnya mengandung 224 mg per 10ml, pas sekali dengan yang dibutuhkan anak usia balita. Sudah gitu masih ada tambahan berbagai multi vitamin dan rasa jeruk tanpa pewarna yang disukai anak-anak.

Vitamin Seven Seas.


Manfaat DHA bisa dikatakan adalah memaksimalkan pertumbuhan sel otak sehingga anak bisa meningkatkan kemampuan belajar dan memori. Juga menjaga sel selaput otak agar selalu berfungsi dengan baik dalam menghantarkan informasi dari satu sel ke sel yang lain.

DHA banyak ditemukan dalam yogurt, sereal dan beberapa jenis ikan, seperti ikan salmon dan ikan cod. Vitamin Seven seas berasal dari minyak hati ikan Cod dari perairan atlantik yang bebas dari pencemaran.

Alhamdulillah, setelah ikhtiyar memberikan apa saja yang saya anggap baik dan bermanfaat untuk tumbuh kembang anak saya, disertai doa juga akhirnya Fahri bisa berjalan bersamaan dengan mengucapkan kata pertama pada usia 13 bulan. Amazing sekali rasanya bayi yang biasanya cuma bisa ketawa-ketawa dan berceloteh "pa pa pa.. ma.. ma.. ma,  wa.. wa .. wa .." itu mulai mengucapkan kata pertamanya. "Ayah.." dia ucapkan dengan tepat.  (hiks ternyata yang disebut pertama bukan ibu.. ). Setelah itu perkembangannya merambat naik selangkah demi selangkah, awalnya cedal tak bisa mengucapkan huruf 'R' lama-lama juga bisa. Motivasi dari ibu agar dia mau belajar itu sangat penting. Teringat saat Fahri berjuang keras melatih lidahnya untuk bisa mengucapkan huruf 'R' karena setiap hari saya suruh sambil mencontohkan ucapan-ucapan yang memakai huruf 'R'. Saat dia berhasil senang dan lega sekali melihatnya.

Zahra lebih cepat 1 bulan dari pada kakaknya, Mungkin karena yang memberikan stimulasi padanya bertambah satu orang lagi yaitu Fahri kakaknya, dia malah lebih rajin dan kreatif mengajak adiknya bermain. Meski niatnya cuma main-main namun secara tak langsung tindakannya bisa menjadi stimulasi yang positif untuk adiknya, si Zahra.

Dan dengan menemani kedua anak saya dalam sepenuh waktu, saya bersyukur bisa menyaksikan kecerdasan-kecerdasan baru yang saya jumpai dalam setiap hari dalam usia emasnya. Dalam usia emas mereka sangat bersemangat belajar apa saja. Menirukan apa saja. Sehingga saya sebagai figur yang setiap saat mereka lihat, selain rutin memberikan stimulasi dan asupan gizi juga harus memberikan contoh-contoh perbuatan yang baik.

Kini Fahri sudah kelas 1 SD, dan alhamdulillah tetap punya semangat tinggi dalam belajar terutama tentang sains, sedangkan Zahra masih 4 tahun, tapi sudah bisa mengeja huruf latin dan arab dengan benar. Sudah bisa menulis dan menggambar juga menirukan segala nyanyian dan sholawat yang dia dengar. Sering kali terjadi Fahri yang lebih banyak mengajarkan ini itu kepada adiknya, mengajari menulis, bermain mengenal huruf dan lain -lain. Saya sering terharu dan bergumam Subhanallah.

Zahra(4tahun) yang selalu menemukan bentuk huruf dalam makanan, atau benda-benda apa saja  dia suka membentuknya menjadi sebuah huruf atau angka yang sudah ia hafal. 

Sungguh, sebagai ibu yang bisa menemani anak-anak dalam usia emasnya adalah keberuntungan dan kebahagiaan. Karena terkadang tak semua ibu bisa mendapatkannya.
***

Tulisan ini diikutkan dalam Kontes Blog "Moms and baby's Diary" yang diadakan oleh Vitamin Seven Seas.





8 komentar:

  1. Balasan
    1. matur suwun bude leyla.. *jawab zahra* ^^

      Hapus
  2. bener loh Binta, seorang adik itu bisa lebih pesat perkembangannya karena selain dibantu ortu, dia juga terinspirasi dari kakaknya.. jadi tanpa sadar pingin buru2 kayak kakaknya, jadilah dia lebih cepat perkembangannya ketimbang waktu kakakknya dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak sy sdh lihat faktanya :)

      Hapus
  3. bener mbak, seorang adik biasanya untuk belajar sesuatu sedikit akan menyamai waktu belajar kakaknya. Dulu, kakak sy baru belajar mengendarai motor ketika SMA, sy pun ikut-ikutan belajar dan bisa, padahal sy masih SD :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah emang kebanyakan begitu ya adek lebih cepet krn niru kakaknya :)

      Hapus
  4. maaf mbak binta...itu vitamin seven seas udah ada sertifikasi halal MUI belum ya...cermati lagi mbak...trims.

    BalasHapus

Komentar kamu adalah penyambung silaturrahmi kita, maka jangan ragu meninggalkan jejak :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...