Minggu, 07 April 2013

[Cernak] APEL MERAH YANG SOMBONG.

Alhamdulillah cerpen saya yang dimuat di Koran Konan, Radar Bojonegoro. Dimuat secara bersambung pada edisi 24 dan 31 maret 2013





                              APEL MERAH YANG SOMBONG.


Di atas sebuah meja makan. Dalam keranjang anyaman rotan yang cantik. Beragam buah di tata manis oleh Bik Inah.
Anggur hijau segar, apel merah merona, buah pear, jeruk mandarin, salak pondoh dan pisang ulin (pisang ukuran kecil berwarna kuning yang rasanya lembut dan legit).
“Wah kita berkumpul nih dalam satu tempat....” kata si buah apel sambil melihat-lihat jenis-jenis teman disampingnya.

“Sayang sekali kok nggak di bedakan tempatnya ya sama Bik Inah. Harusnya buah-buahan mahal dan cantik seperti aku dibedakan tempatnya.” si apel melanjutkan bicaranya dengan sombong.
“Kita ini sama kok, sama-sama buah yang mengandung vitamin dan baik untuk kesehatan manusia..” jawab salak.
“Iya sih. Tapi asal kita kan tidak sama. Aku, pear, jeruk mandarin dan anggur merah berasal dari luar negri... tau nggak? luar negri itu jauuuh. Kami di petik dan diterbangkan ke banyak tempat dunia karena kelezatan kami yang luar biasa“ cerita apel makin pongah.
“Dulu pada zaman raja-raja di negri padang pasir. Aku selalu jadi hidangan yang disukai raja lho “sambung si anggur merah menceritakan bahwa dirinya menjadi buah yang zaman dahulu menjadi kesukaan raja raja Arab. Dia ikut-ikutan si apel membanggakan dirinya.

Apel tertawa lebar. Sementara pisang ulin yang asalnya dari kampung jawa dan asli Indonesia menunduk sedih. Ia merasa memang tak pantas berada dalam satu keranjang bersama mereka para buah-buahan mahal. Yang sepertinya punya cerita hebat dan patut untuk dibanggakan.
“Nah sekarang dengarkan ceritaku... !!” sambil batuk-batuk kecil Si buah pear minta didengarkan.
“Kalian tahu kan kalau aku adalah buah yang banyak mengandung air. Sangat menyegarkan, menyehatkan dan kata dokter-dokter yang kerja di laboratorium itu daging buahku sangat bagus untuk menghaluskan kulit“ cerita pear kerena kemarin sempat mendengar perbincangan Bik Inah dengan temannya yang suka baca majalah.

“Dan lagi buah seperti aku ini nggak dijual di sembarang tempat. Dijual di supermarket dan toko buah yang bagus. Beda dengan kalian yang bisa dibeli di pasar pinggir jalan hehehe..”
Pisang ulin semakin sedih. Kalau saja bisa meloncat ia ingin keluar dari tempat itu.
“Aku juga hebat lho. Asalku dari negri china. Negrinya para pendekar jago kungfu hehehe..” jeruk mandarin tak mau kalah.
“Lihat itu salak.... !! sering dengar cerita kan kalau kebanyakan makan salak bisa susah buang air besar. Buang air besar jadi sakit sampai nangis nangis...” si apel kini bukan hanya sombong. Dia mulai menghina dan mencari-cari kejelekan kawannya.
Salak masih tersenyum mendengar perkataan apel.
“Semua makanan kalau kebanyakan pasti tidak baik. Begitu juga kebanyakan makan apel bisa membuat mencret” apel cemberut mendengar jawaban salak.

Ssssst... semua diam.
Meja makan sudah ditata rapi oleh Bik Inah. Semua makanan diletakkan di meja. Nasi, sayur asem, pepes ikan lele, ayam goreng tepung, urap-urap daun singkong, dan setoples kerupuk. Tak ketinggalan pula sekeranjang buah-buahan segar.

“Tamunya sudah datang Bu “  kata Bik Inah. Ibu Ratih segera keluar menyambut tamu yang ditunggunya. Faiz mengikutinya dengan riang.
Om dan tante Faiz dari surabaya datang bersama anak-anaknya. Aldo dan Aldi. Dua kakak adik itu langsung berhambur memeluk Faiz. Mereka tertawa sangat gembira karena lama tidak bertemu.
“Nanti kita main di kolam lele ya. Kita mancing rame-rame...” kata Aldo. Dia selalu kangen bermain di kolam lele belakang rumah pamannya itu. Bersama Faiz dan sepupu-sepupunya yang lain.
“Iya.. aku sudah siapkan pancingnya..” jawab Faiz.
Kemudian mereka masuk kedalam rumah. Duduk diruang tamu. Ayah, ibu, paman dan bibi berbincang-bincang. Sementara Faiz, Aldo, dan Aldi berlari ke belakang rumah.
Liburan kali ini rencananya Aldo dan Aldi akan menginap beberapa hari di jombang. Kampung tempat tinggal pamannya yang sejuk.

“Aldo... Aldi... kita makan dulu yuk. Kesini semua..!!” panggil Ibu di belakang. Sebentar kemudian ketiga anak itu berlari menuju ruang tengah. Tempat hidangan sudah disediakan.
“Aku mau pepes lelenya Bi...” kata Aldo.
“Iya ini dimakan, nggak pedes kok Bik Inah masaknya “
“Asyiiik...” teriak Aldi.
Mereka menikmati makan siang dengan lahap. Pepes lele ternyata lebih banyak disukai bersama sayur asem.
“Jangan lupa buahnya...” Ibu Ratih mempersilahkan.
“Waaah aku paling suka dengan ini Mbak, di surabaya jarang ada lho...” kata Om Wawan. Mengambil pisang ulin kemudian memakannya dengan lahap.

“Aku juga mau, sudah agak bosen dengan buah-buah impor.... “ tante Widya ikut-ikutan mengambil pisang ulin. Aldo dan Aldi pun tak mau ketinggalan ikut mengambil.
“Hmmm.. nyam nyam, memang enak pisang unyil ini ya Faiz “
“Itu namanya pisang ulin Do.. bukan pisang unyil “ Faiz menerangkan.
“Bentuknya kecil sih.. lucu..” jawab Aldo sambil tertawa.
“Di belakang masih banyak, nanti buat oleh-oleh Papa dan mama kalau pulang “ cerita Bu Ratih.
“Tapi disisain buat disini ya Bulek. Aldi kan mau menginap disini “ ucap Aldi khawatir kehabisan pisangnya karena dibuat oleh-oleh semua. Yang mendengarnya tertawa.

“Jangan khawatir Aldi, yang matang di pohon belum dipetik juga masih ada kok “ Faiz kembali menerangkan. Aldi tersenyum girang.
“Hmm salaknya juga manis sekali “ tante Widya ganti menikmati salak pondoh yang disuguhkan.
Setelah menikmati makan siang dan berbincang-bincang. Om Wawan dan tante Widya mohon pamit.
“Jangan nakal ya selama disini. Papa akan menjemput lima hari lagi...” setelah mencium dan menasehati dua anaknya tante Widya pun pulang. Aldo, Aldi dan Faiz segera berlarian menuju lapangan bola di dekat sawah. Tempat banyak anak-anak lain kumpul bermain bola dan gobak sodor. Meskipun Aldo dan Aldi dalam setahun hanya dua atau tiga kali menginap dikampungnya Faiz. Tapi mereka cukup akrab dan diingat oleh teman-teman sekampung Faiz.

Rumah kembali sepi. Bik Inah mencuci piring-piring yang kotor. Dan Bu Ratih membersihkan meja makan.
Yang dimakan oleh tamunya hanya pisang ulin dan salak pondoh. Sementara apel merah dan pear hanya digigit sedikit oleh anak-anak kemudian digeletakkan di meja. Buah-buahan itu kembali dimasukkan dalam kulkas. Kecuali apel merah dan pear. Kedua buah itu diletakkan di dapur.
Menjelang senja. Anak-anak pulang dari lapangan.
Terdengar tangisan dari dapur.
“Hiks.. hiks... “ apel dan pear menangis tersedu-sedu. Menyesal atas kesombongan mereka.
***  ***  ***
                                                                          Binta almamba
                                                            




2 komentar:

Komentar kamu adalah penyambung silaturrahmi kita, maka jangan ragu meninggalkan jejak :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...