Selasa, 21 Juni 2011

cerpen fantasi *dewasa*

pertama kalinya menulis seperti ini. Aku bilang ini kemenanganku menaklukkan tantangan :D
mengikuti sebuah even lomba menulis fantasi fiesta.
ini hasilnya, cekidot... alur gampang ditebak n cuma gitu doang lang-lang buana alam imaji yang berhasil kutuangkan.. hihi yang penting rampung aku puas :)





 Festival layang-layang



Konon kisah itu selalu menjadi acuan atau semacam jejak yang ingin ditelusuri oleh para pemuda negri layang-layang. Sebuah kisah romansa seorang pemuda yang mendapatkan permaisuri hatinya melalui selembar layang-layang yang diterbangkan oleh angin hingga jauh ke atas langit menembus sebuah negri bernama kapas langit. Negeri dimana bidadari-bidadari cantik dan menawan membentangkan sayap tipis namun elastis dan kuat, terbang bermain-main diantara mendung dan pelangi.
Iya negeri itu dinamakan negeri layang-layang karena kisah itu. Sang raja mendapatkan permaisuri cantik dan baik hati yang berasal dari negri kapas langit. Sebuah negeri di atas mendung, yang pasti bukan sembarang orang bisa mendapatkan anugrah indah itu. Sebelum mendapatkan ratu Raninta sang raja Rakayana hanya pemuda biasa yang hidup sebagai pencari kayu dan pemburu rusa di tepi hutan. Setelah layang-layang yang dibuatnya memikat hati Raninta, bidadari negeri kapas langit itu turun ke bumi dan membantu segala kebutuhan Rakayana dengan segala kelebihannya. Sedikit demi sedikit mengubah nasib Rakayana menjadi lebih baik. Membuka hutan, menemukan mata air, berhasil membudidayakan pohon maruni yang menjadi bahan makanan lezat dan amat disukai orang-orang di negeri manapaun yang kebetulan lewat di daerah itu.
Lambat laun banyak orang yang tertarik untuk ikut menanam pohon maruni dan tinggal di tepi hutan tempat tinggal Rakayana dan Raninta. Mereka berdua diangkat menjadi raja dan ratu di tempat yang kian hari kian ramai dan penduduknya juga makmur karena budidaya pohon maruni. Ada yang bilang bahwa pohon maruni bijinya berasal dari negri kapas langit yang dibawa oleh bidadari Raninta ketika turun ke bumi. Entahlah... cerita itu hanya beredar dari mulut ke mulut. Belum diketahui pasti kebenarannya.
Yang diketahui semua orang adalah festival layang-layang diadakan setiap tahun. biasanya acara itu diadakan di halaman sekitar istana dan tepi perkebunan pohon maruni yang berada di wilayah kerajaan. Acara itu bertujuan untuk mengenang memori kisah cinta raja Rakayana dan permaisuri Raninta.
Sebelum dimulai, raja Rakayana selalu menceritakan ikhwal kisah cintanya saat menuliskan secarik puisi pada layang-layang buatannya. Kemudian menerbangkannya ke atas langit hingga terbaca oleh bidadari Raninta yang kini telah menjadi permaisurinya. Ibu dari ketiga orang pangeran yang gagah dan rupawan.
Ah tentu saja kisah itu menginspirasi banyak pemuda untuk mencari kekasih seorang bidadari dari negeri di atas mendung. Meskipun  berkali diadakan pada kenyataanya belum ada satupun pemuda negri layang-layang yang berhasil. Terkadang mereka putus asa dan menganggap raja Rakayana pasti hanya berbohong tentang kisah itu.
Randika, putra pertama raja Rakayana adalah salah satunya.
“Apa memang benar sih kalau Ibu dari negeri kapas langit..?” tanyanya pada suatu hari. Berkali festival layang-layang hanya mendapati berbagai puisi di lembar kertas yang diterbangkan ke langit itu kebali ke tanah tanpa membawa apa-apa.
“Tentu saja itu benar anakku..” jawab Ibundanya.
“Tolong ceritakan keadaan negri kapas langit itu Bu..” pinta Randika. Ibundanya tersenyum.
“Disana tempat orang yang rajin bercocok tanam berbagai tumbuhan. Berbagai bunga yang indah. Sesama penduduk selalu tersenyum dan hidup rukun. Sesekali kami terbang di pinggiran area mendung pembatas negri kami dengan serpihan pintu bumi... kami mengintip kehidupan makhluk bumi dengan terbang berputar-putar...” cerita itu berhenti sebentar.
Randika masih mendengar dengan seksama cerita yang mengalir dari perkataan Ibundanya. Berharap segera dilanjutkan.
“Pada suatu hari aku mendapati sebuah kertas terbang dengan lilitan benang kecil yang ternyata ujungnya masih terkait panjang di bawah bumi. Kertas itu indah sekali, berhiaskan gambar daun-daun dan liukan batang-batang tumbuhan. Bahkan ada beberapa kata yang membuat aku tersentuh... kemudian kertas itu kupegang. Dan itulah akhir masaku menjadi bidadari kapas langit. Karena aku memegang benda itu otomatis menjadi penduduk bumi. Raja menyuruhku turun mengikuti benang itu kemudian menjalani takdir dengan pemuda pemilik benda itu.... sampai di bawah, sayapku hilang dan aku bertemu dengan Ayahmu kakanda Rakayana. Dan sungguh aku jatuh cinta... setelah awalnya pada puisi kemudian tentu saja pada penulis puisi itu..” Ibunda Raninta mengakhiri cerita.
Randika tertegun.
“Bolehkah aku tahu apa isi puisi itu Ibu?” tanya Randika lagi. Dia sangat penasaran.
“Untuk apa? Itu adalah rahasia kenangan kami... “ tolak Ibundanya.
“Jika kau ingin berhasil mendapatkan bidadari negri kapas langit maka tulislah puisimu dengan hati... jangan asal meniru, menulislah bahwa kamu punya banyak cinta namun jangan menulis harapan berlebihan tentang terbalasnya rasa atau keuntungan-keuntungan materi dan jabatan atas cinta yang kau tawarkan...!” nasehat Ibu. Randika mengangguk dan tak berani berkata lagi.
Dia melangkah pergi keluar istana. Kembali menjalani rutinitas memantau perkebunan maruni. Banyak pekerja dari penjuru negri yang datang di tempat itu. saat musim kemarau pohon maruni harus disiram setiap hari. Sehingga membutuhkan banyak tenaga untuk mengambil air. Tak hanya itu daun-daun yang kering juga harus diambil dan dikumpulkan untuk dibusukkan. Daun-daun busuk itu akan digunakan lagi untuk memupuk tanaman tersebut. Tanpa ada pupuk lain pohon-pohon itu akan berbuah lebat saat musim buah. Dan buah-buah bisa dimakan langsung, diproses menjadi manisan juga diperas menjadi minuman yang segar. Hasil pohon maruni itu sudah terkenal di berbagai negri. Pengunjung yang lewat negri layang-layang tak pernah melupakan rasa lezat buah maruni sehingga suatu saat akan kembali dan membeli lagi. karena biji buah maruni tidak dapat tumbuh kecuali di negeri layang-layang atau paling tidak pada tanah yang pernah ditapaki ratu Raninta.
“Aduh maaf tuan... “ karena asyik mengamati buah-buah maruni yang masih ranum pangeran Randika tak memperhatikan ada seorang menabraknya. Dia memikul dua ember air di bahu kirinya.
“Oh tidak apa-apa...” jawab pangeran sembari tersenyum. Dia mewarisi sifat baik hati dan lemah lembut milik Ibunya. Tanpa sengaja pangeran memperhatikan seseorang yang menabraknya. Dia berpakaian laki-laki tapi sepertinya bukan laki-laki, kelihatan agak lebih cantik meskipun tangan-tangannya kasar dan berotot.
“Hai kamu.. kemarilah!” panggil pangeran Randika.
“Iya Tuan...” jawab orang itu takut kena marah.
“Buka topi tudungmu..!” suruh pangeran karena penasaran. Apa mungkin dia perempuan yang bekerja seperti laki-laki.
“Jangan Tuan..” tolak orang itu meskipun agak takut. Dia terlihat bingung dan ingin lari.
“Kenapa? Apa ada yang kamu sembunyikan.. aku hanya ingin melihat wajahmu..” ucap Pangeran.
“Tidak Tuan.. wajah saya kotor..” orang itu masih menolak. Pangeran semakin penasaran dan merampas topi tudung itu dengan paksa.
Dan tampaklah sesuatu yang sedari tadi telah diduga olah si pangeran. Saat tudung itu dibuka segera menjuntai rambut panjang dan wajah perempuan yang tak bisa disembunyikan lagi. Pangeran Randika tak dapat menutupi rasa terkejutnya.
“Kenapa kamu bekerja disini? ini pekerjaan untuk laki-laki..” tanya pangeran. Gadis yang ditanyai menunduk takut.
“Tentu saja saya mencari uang Tuan..” jawab gadis itu lirih.
“Iya aku juga tahu.. tapi kenapa tidak bekerja sebagai pengumpul daun saja.. yang lebih ringan dan biasa dikerjakan oleh perempuan.” Tanya pangeran lagi.
“Iya karena saya ingin upah yang lebih besar.. tidak apa-apa pekerjaan lebih berat asal mendapat uang yang lebih untuk merawat Ibu saya yang sakit juga memberi makan  kedua adik saya.” Jawab jujur si gadis membuat pangeran tersentuh.
“Namamu siapa?”
“Armey..  maaf saya harus meneruskan pekerjaan saya..” gadis bernama Armey itu berlari pergi bersama pikulan dan dua embernya. Dia tak ingin ditanya-tanya lagi oleh orang yang diduganya adalah mandor baru perkebunan.
“Armey.. tunggu!” panggil pangeran lagi. Namun panggilan itu tidak dihiraukan.
Festival layang-layang semakin dekat. Akan banyak buah maruni yang akan dijadikan manisan dan menjadi jamuan tamu-tamu negeri lain yang akan ikut menyaksikan parade layang-layang dan puisi-puisi indah.
Meskipun masih penasaran pada sosok Armey, Pangeran Randika kembali pada pekerjaannya untuk memilih buah-buah yang matang dan menyuruh pekerja untuk memanjat dan mengambilnya. Dalam hatinya memuji bahwa gadis yang baru ditemuinya adalah perempuan yang hebat.
*** *** ***

Para pemuda sibuk mempersiapkan puisi. Kertas-kertas indah dan berkilap emas menjadi sangat mahal pada musim festival. Iya.. karena banyak pemuda yang membeli dan menggunakanannya sebagai bahan layang-layang.
Tak hanya itu, para penyair pun kebanjiran rejeki berjualan kata-kata. Puisi-puisi romantis mereka buat dan diberikan kepada para pemuda yang mau membayar mahal. Wah sampai seperti itulah kemeriahan dan antusias para pemuda.
“Aku tak akan pernah membeli puisi. Aku ingin membuat sendiri kata-kata indah untuk memikat hati putri kapas langit...” ujar Pangeran Randika. Ditanggapi anggukan oleh kedua adiknya yang belum begitu ingin mengikuti festival, mereka berdua masih asyik belajar berbagai ilmu di negri lain sehingga belum terfikir mencari pendamping.
Tibalah hari yang dinanti. Lapangan dekat perkebunan sudah ramai pengunjung. Bangku-bangku dengan peneduh dibuat khusus untuk tempat duduk raja Rakayana, ratu Raninta, para pejabat dan tamu kehormatan dari negeri tetangga. Layang-layang dengan berbagai bentuk yang indah siap dinaikkan.
Angin sejuk berhembus pelan. Semakin lama semakin banyak angin yang datang. Sehingga layang-layang itu satu persatu mulai naik dan menari-nari diatas angkasa. Pemandangan langit saat itu penuh dengan aneka warna kertas warna-warni yang semakin mengecil.
Semua hati peserta festival diliputi debar. Adakah benang yang menautkan layang-layang sudah bisa menembus negeri di atas mendung? Benang yang digunakan adalah benang khusus yang dibuat teramat panjang juga kuat. Pembuatnya juga mematok harga mahal untuk itu. iya karena itulah festival layang-layang hanya bisa diikuti oleh pemuda kalangan anak pejabat, saudagar-saudagar kaya atau putra mahkota dari negeri lain yang mengetahui cerita masyhur tentang Ratu Raninta.
Layang-layang milik Pangeran Randika belum juga dinaikkan. Rupanya dia belum selesai menulis puisi. Keningnya terlihat berkerut tanda berpikir keras. Mungkin dia sedang mengumpulkan serpihan-serpihan memori untuk merangkai sebuah kalimat yang dirasa akan menjadi untaian paling indah.
“Ayo para pemuda... jangan menyerah, naikkan benangmu setinggi-tingginya dan semoga putri berhati kapas yang akan menyambutnya...” ucapan penyemangat diucapkan oleh Raja Rakayana. Ratu Raninta terlihat harap-harap cemas, pastinya dia juga ikut berharap jika mungkin ada saudara atau kerabatnya dari negeri kapas langit di atas mendung ada yang mau menyentuh salah-satu layang-layang yang menari dan menjalani takdir dengan salah satu pemuda disini. kemungkinan itu sungguh sangat kecil, penduduk kapas langit pastinya tidak mau mengalami hal serupa dengan Raninta. Pasti lebih nyaman hidup di atas sana dengan penuh kedamaian dan semuanya tersedia dengan mudah, dari pada di bumi ini yang kadang kala juga ada pertengkaran, peperangan dan pertumpahan darah. Disamping itu untuk melanjutkan hidup harus melakukan perjuangan yang tidak mudah untuk memenuhi segala kebutuhan.
Siang terus merangkak perlahan. Pangeran Randika belum juga menaikkan layang-layangnya. Kertas puisinya masih kosong. Semua hadirin mulai heran. Bahkan ada penyair yang sangat percaya diri menawarkan puisinya secara gratis buat Pangeran. Huah... tampang penjilat banget pokoknya...
“Tidak, terimakasih.. aku ingin berjuang membuat puisi ini dari hatiku sendiri...” tolak halus pangeran. Kontan si penyair itu merasa malu.
Tiba-tiba, setelah beberapa lama pangeran Randika membuang kertas puisinya. Menghempaskan layang-layang yang kemarin dia buat sendiri tanpa mau dibantu orang lain.
“Ada apa...?” tanya Ibundanya Ratu Raninta.
“Festival layang-layang ini untuk menjaring cinta dan simpati putri dari negeri kapas langit kan Bu..?” Ratu Raninta mengangguk namun belum mengerti arah pertanyaan putranya.
“Untuk mencari perempuan yang cantik, cerdas, dan berhati seputih kapas kan?” tanya Pangeran lagi. juga dibalas anggukan dan tatapan belum mengerti Ratu Raninta dan para hadirin yang ada di tempat itu.
“Berkali-kali aku mengikuti festival ini, dengan puisi dan layang-layang yang kubuat sendiri. Namun tidak pernah mendapatkan hasil...” Pangeran Randika diam termenung. Sementara para pendengar menantikan kelanjutan ucapannya.
“Jadi sekarang aku berpikir.... bahwa perempuan cantik, cerdas dan berhati seputih kapas itu tak hanya ada di negeri kapas langit. Perempuan itu juga ada disini, di negeri layang-layang. Dan aku rasa aku sudah menemukannya...” semua yang mendengar sontak tersenyum penuh kekaguman. Bahkan beberapa putri pejabat yang hadir disana sempat merasa salah tingkah. Ingin sekali bahwa perempuan yang dimaksud adalah mereka.
Soneta, seorang putri panglima kerajaan adalah yang terkenal paling cantik di antara gadis-gadis di negeri layang-layang. Dia tersenyum penuh percaya diri. ‘jika gadis yang cantik dan cerdas yang dicari Pangeran Randika ada di negeri layang-layang.. pasti itu adalah aku’ pikirnya sembari tak berhenti tersenyum.
Ada juga Manjana, gadis cerdas putri mentri perkebunan yang berhasil menemukan varietas baru pohon maruni. Dia juga terlihat tersenyum percaya berharap yang dimaksud pangeran randika adalah dirinya.
“Kamu benar anakku... iya kamu benar... lalu siapa gerangan perempuan itu?” tanya Ratu Raninta penasaran. Semua yang hadir disana menjadi tidak fokus lagi pada parade tarian layang-layang kertas di atas langit. Mereka lebih tertarik untuk mengetahui siapa perempuan yang telah dipilih Pangeran Randika. Kebanyakan menyangka juka bukan Soneta maka pastilah Manjana. Tak kandidat lain yang melebihi kecantikan dan kecerdasan dua gadis itu.
“Aku akan menunjukkan dan membawanya pada Ibu... doakan dia nanti mau menerima pinanganku meskipun tanpa puisi.” Ucap pangeran Randika mantap. Usai berucap dia segera berlari dengan semangat. Dia sudah memantapkan hati dan membuat pilihan berdasarkan kata nuraninya.
Melewati tempat duduk Soneta. ‘Ah berarti bukan dia perempuan pilihan pangeran Randika’ pikir orang-orang. Sebentar kemudian tempat duduk Manjana juga dilewati. ‘bukan Manjana juga?’ kedua gadis itu mendengus kesal. Malu karena sudah melambungkan hati merasa diri akan terpilih.
Pangeran Randika meneruskan pencariannya masuk ke perkebunan maruni. Semua orang yang penasaran mengikuti perjalanannya. Akan kemana Pangeran ini menemui gadis pilihan hatinya?
“Paman.. kemana para pekerja kebun?” tanya pangeran Randika pada mandor perkebunan.
“Di hari festival ini mereka saya liburkan Pangeran. Agar mereka juga bisa menonton dan menikmati kemeriahan festival.” Jawab sang mandor.
“Oh kalau begitu tahukah kamu dimana rumahnya Armey.. pekerja bagian menyiram pohon maruni?”
“Pekerja penyiram pohon? Tidak ada yang bernama Armey... yang ada adalah Armenito, pemuda kurus yang hidup ditepi hutan bersama Ibu dan dua adiknya....” cerita sang mandor.
“Iya pasti itu orangnya.. antarkan aku kesana!” perintah pangeran. Raja, ratu dan beberapa orang yang mengikuti pangeran merasa sangat heran. Apa mungkin Pangeran putra mahkota mereka sudah gila. Sosok yang dikatakan pilihan hatinya itu seorang pemuda?
Sampailah mereka di depan gubuk kecil.
“Selamat siang...!” sapa seorang anak kecil.
“Kami ingin bertemu Armey.. apakah dia dirumah?” tanya pangeran. Sebentar kemudian keluarlah seorang gadis yang berpakaian lusuh. Dia keluar dengan wajah takut.
“Maaf Tuan, pakah Tuan akan menghukum saya karena telah menyamar sebagai laki-laki... ampun, saya melakukan ini hanya untuk mencari upah yang lebih besar.. untuk Ibu dan Adik-adik saya... ampuni saya!” gadis itu duduk berlutut dengan sangat takut. Mengingat kejadian kemarin saat kepergok penyamarannya di kebun maruni.
“Tidak Armey... aku bukan ingin menghukummu.. tapi kedatanganku adalah untuk meminangmu menjadi istriku. Kamu adalah putri baik hati yang berjuang untuk keluarga. Tak ada hati yang lebih cantik yang pernah kutemui selain kamu..” ucap Pangeran Randika seperti petir yang tentu saja sangat mengejutkan bagi Armey.
“Saya juga bisa melihat kecantikan hatimu.. kenalkan saya Ratu Raninta Ibunda Pangeran Randika. Maukah kamu menjadi istri dari anakku?” Ratu Raninta ikut bicara disambut anggukan pembenaran dari suaminya.
Armey semakin terkejut atas semua kejadian ini. Berkah luar biasa yang tak pernah dibayangkan. Namun dia terlihat ragu akan sesuatu.
“Aku menanti jawabanmu Armey..” ucap halus Pangeran sembari tak henti hatinya berharap.
“Saya senang sekali jika Tuan Pangeran bersedia memperistri saya. Namun saya mau menerima dengan syarat saya masih diperbolehkan bekerja untuk Ibu dan Adik-adik saya...” jawan Armey lugu.
“Ah Armey.. tentu saja setelah kau menjadi istriku.. keluargamu akan berada dalam tanggung jawabku. Janganlah kamu khawatir...” ucap Randika dengan bahagia.
Festival layang-layang tahun itu berakhir dengan sebuah kisah mengejutkan dari Pangeran Randika. Tak seberapa lama pesta pernikahan pun digelar meriah. Armey sigadis pekerja kebun maruni disulap menjadi putri yang jelita. Dengan gaun indah dan tata rias istana Armey berubah penampilan menjadi cantik. Semua orang suka melihatnya.
“Kecantikan fisik masih bisa dipermak dan diperbaiki, kecerdasan juga bisa diperoleh dengan tekun belajar.. tapi kecantikan budi itu tidak mudah ditemukan... kebahagiaanku yang sempurna adalah menemukan putri negeri layang-layang yang berhati seputih bidadari kapas langit...” ucap Pangeran Randika pada hari pernikahannya. Hari itu adalah hari kebahagiaan bagi seluruh rakyat negeri layang-layang.
Sebuah kisah baru seolah-olah menutup kisah lama. membuat semacam jejak baru dalam benak para penduduk tentang pancarian sosok bidarari yang akan dijadikan pendamping hidup. Mulai saat itu festival layang-layang hanya sekedar dijadikan kontes beradu keindahan layang-layang dan lomba membaca puisi yang telah ditulis diatas kertas layang-layang. Para gadis tak lagi merasa sebal dengan adanya festival, posisi mereka lebih punya harapan untuk menemukan pemuda idaman yang tak lagi berandai tinggi menjaring cinta bidadari kapas langit.
Membuka mata... bidadari itu ada disekitar negeri sendiri. Mudah sekali menemukannya jika kembali melihat pada diri dan membuat pertanyaan sekaligus memperjuangkan jawaban terbaik atas pertanyaan tersebut. ‘Sudah pantaskah aku mendapatkan sosok seperti bidadari?’......
***  ***  ***

Ratu Raninta termenung di balkon istana. Suasana kerajaan sangat teduh, namun terkadang hatinya terasa gaduh. Sesungguhnya dia rindu pada kampung halamannya. Berharap pada suatu saat ada saudara atau kerabat yang mengikuti jejaknya berani menjalani takdir dengan pemuda bumi.
Semua itu memang sungguh tak mungkin. Tak ada bidadari yang cukup berani hidup dalam perjuangan dan negeri penuh warna di penjuru bumi...
Lembar puisi yang tersimpan rapi terbuka kembali. Sebuah deretan kata yang memulai berlembar kisah asal muasal negeri layang-layang.
..........................
Hikayat sunyi
Sebuah negeri dasar hati...
Berteman dahan kering,
Berlabuh pada selimut basah...
Dingin,
Kutukan menjelma rawa-rawa..
Sejengkal tanah untuk melangkah,
Semesta pinta pada yang Kuasa
Hadirkanlah senyuman jelita
Di pojok gubuk yang gulita...
..........
...
Rajutan puisi yang membuatnya jatuh cinta hingga rela menyentuh benang yang konsekwensinya adalah perubahan nasib seumur hidupnya.
Kini yang ada adalah senyap yang becampur kepedihan. Bukan tentang penyesalan... namun hanya sekedar kerinduan yang bersayap dan tak bisa mengepak.
***  ***  ***

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar kamu adalah penyambung silaturrahmi kita, maka jangan ragu meninggalkan jejak :)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...