Tampilkan postingan dengan label Karya yang pernah lolos di media cetak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya yang pernah lolos di media cetak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 November 2013

Ayam Telur Puyuh Bumbu Bali

Alhamdulillah dimuat tulisan resep saya di Majalah Sekar Edisi 121 yang ternyata edisi terakhir, pada halaman pengantar redaksinya sudah pamit bahwa majalah tersebut tidak akan cetak lagi huhu..
Tulisan resep yang saya ambil dan modifikasi dari postingan blog saya disini :

Yup semoga menemukan media lain yang berkenan menerima tulisan-tulisan resep lagi ya, kalau enggak sih ya nggak apa-apa posting gratis di blog saja.. semoga tetep manfaat buat yang berkunjung :)


Rabu, 06 November 2013

Singkirkan Asbak di Rumah

Alhamdulillah ini yang ke3 kalinya, tulisan gagasan saya dimuat di jawapos edisi Sabtu tanggal 2 November 2013.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagi teman yang ingin mengirimkan tulisannya bisa ke alamat email opini@jawapos.co.id. Tulisan yang mengandung IDE BARU, 150 kata (boleh lebih dikit-dikit, punya saya kemarin 187 kata). JIka dalam rentang waktu 5 hari tidak dimuat naskah dikembalikan haknya kepada penulis. Simpel, mudah dan cepat...
Silahkan mencoba.. :)

Jumat, 01 November 2013

YOGA DAN IKAN SUNGAI.

Alhamdulillah dimuat lagi di Koran Konan Radar Bojonegoro, Hari Ahad 27 Oktober 2013



Monggo yang berkenan baca... 
Dan jika ingin mengirmkan karya juga bisa dikirimkan ke alamat email kenalyan@yahoo.co.id dengan subjek Cerpen Anak. Panjang bebas seperti cerita anak pada umumnya di media lain.

YOGA DAN IKAN SUNGAI

Musim hujan datang lagi. Daun-daun dan atap rumah sering terlihat basah. Matahari juga jarang tersenyum membagikan sinarnya, sehingga Ibu sering mengeluh karena pakaian yang dicuci jarang bisa kering dengan sempurna.

Hari-hari yang kurang menyenangkan bagi Yoga dan teman-temannya. Yoga yang suka bermain bola dan gobak sodor terpaksa tidak bisa bermain karena lapangan dan halaman-halaman rumah banyak yang becek. Sementara Ibu selalu melarang bermain kotor-kotoran.

“Huh...” Yoga mendengus dengan bosan memandangi tanah becek yang tak kunjung kering. Padahal ini hari minggu, waktunya libur dan bebas bermain.

“Yoga.. Yogaaa...” terdengar teriakan kawan-kawan dari jalan depan rumah. Mereka terlihat membawa alat pancing dan melambaikan tangan dengan gembira.

“Mancing yuk, di sungai dekat sawah...!” ajak Irfan. Dalam sekajab wajah muram Yoga berubah menjadi senyum riang. Yap, tak ada main bola memancing pun jadi. Ia segera berlari ke dalam rumah mengambil alat pancing yang dibelikan Ayahnya. Setelah pamit pada Ibu diapun berlari menyusul kawan-kawannya.

Senin, 17 Juni 2013

Liburan Peri Sikoci.

Alhamdulillah cernak saya dimuat di Koran Lampung Post, Minggu 16 Juni 2013. 
Silahkan dibaca bagi yang berkenan :)
--------------------------------------------------------------  




 LIBURAN PERI SIKOCI.


Peri Sikoci gembira sekali menanti saat liburan tahun ini. Ayah biasanya akan mengajak berlibur ke tempat-tempat menakjubkan diluar negeri rumpun bambu yang mereka huni.  Tahun lalu Ayah mengajak ke negeri kupu-kupu, berkenalan dengan penduduknya yang mempunyai sayap-sayap lebar dan indah, warna-warni dan sebagian ada yang membentuk gambar menyerupai mata ketika direntangkan. Kata Kupipi, sikupu-kupu kecil yang  ia kenal disana, gambar sayap menyerupai mata itu gunanya untuk menakut-nakuti hewan pemangsa agar tak berani memakan karena menyangka kupu-kupu itu hewan yang sangat besar karena melihat gambaran mata yang besar pada sayapnya itu.

Peri Sikoci juga diajak jalan-jalan ke taman bunga tempat para kupu-kupu mencari madu, makanan mereka yang berupa cairan rasanya manis sekali. Wah pokoknya Sikoci sungguh senang dengan petualangan dalam mengisi liburan sekolahnya tahun kemarin.

“Ayah.. liburan ini kita akan jalan-jalan kemana?” tanya peri Sikoci tak sabar.
“Ayah akan mengajakmu ke negeri kunang-kunang....” jawab Ayah sambil tersenyum.
“Kunang-kunang, makhluk apa itu Yah?” tanya peri Sikoci ingin tahu.
“Kunang-kunang adalah makhluk yang bersayap juga seperti kita, dia punya keistimewaan pada ekornya yaitu bisa menyala terang seperti lampu.” Cerita Ayah.

“Wah menakjubkan... berarti kita berangkat besok pagi-pagi ya, Ayah!” ajak Sikoci tak sabar menanti esok pagi. Ayah mengangguk dan tersenyum.
 Kesokan harinya Ibu sudah membuatkan tiga bungkus manisan buah belimbing hutan untuk bekal perjalanan.

Selasa, 21 Mei 2013

KOTAK MUSIK (Cernak dimuat di Radar Bojonegoro)



Dimuat di Konan (Koran anak) Radar Bojonegoro. Minggu 12 mei 2013.
---------------------------------------




Setelah baru saja dibelikan rautan pensil berbentuk boneka panda  oleh ibunya, Fika kembali merengek minta dibelikan sesuatu yang seperti punya temannya di sekolah.

“Belikan aku kotak musik seperti punya Raisa dong , Bu! Fika pengen sekali punya yang seperti itu..” rengek Fika di ruang kerja ibunya. Ruang kerja yang sekaligus ruang tamu di rumah mereka. Ibu Fika masih sibuk berkutat dengan mesin jahit dan lembaran-lembaran kain yang baru diguntingnya sesuai pola.

“Bu.. beliin ya Bu!” Fika masih saja merengek. Tak peduli dengan kesibukan dan keleahan yang tampak jelas di wajah ibunya.

“Fika, Ibu sedang tidak ada uang. Hasil jahitan yang ini buat bayar sekolahnya Fika dulu ya. Kotak musik besok-besok saja kalau ibu ada rejeki lagi..” jawab ibu sembari sejenak menghentikan pekerjaannya. Fika malah cemberut mendengarkan jawaban itu. Ia tetap merengek kemudian bergegas mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu menangis sambil menghentak-hentakkan kaki. Kemudian menggerutu menyesali nasibnya yang sudah tidak punya ayah. Biasanya setelah itu Ibu akan terharu dan selalu berusaha keras memberikan keinginan Fika.

“Belikan ya Bu..” ucap Fika masih sambil menangis. Ibu masih melanjutkan pekerjaannya menjahit meski ia terlihat menjadi sedih dan berpikir keras.
***

Di sebuah Pusat perbelanjaan, Fika berjalan beriringan bersama ibunya. Sang ibu tanpak cemas dan menoleh kekiri dan kanan.

Minggu, 05 Mei 2013

Jangan Corat coret tembok, Nak! (Dimuat di rubrik gagasan Jawapos)


Alhamdulillah dimuat lagi tulisan saya di rubrik Gagasan Jawapos edisi Senin 6 Mei 2013. Kali ini tidak banyak diedit. 

Bagi teman-teman yang ingin mengirimkan juga berikut cara-caranya :
Kirim ke email opini@jawapos.co.id sekitar 100-250kata disertai data diri dan nomer rekening. Jangan lupa subjek emailnya GAGASAN.

Semoga tulisannya bermanfaat. Amiin..
------------

Versi tulisan asli :
                            
                           Jangan Corat-coret tembok, Nak!
       
       Dalam hal mendidik anak, banyak sekali orang yang mengatakan dan menyarankan untuk membebaskan kreativitas anak. Termasuk membiarkan tembok dalam rumah menjadi penuh dengan coretan. Jika dibiarkan menumpahkan kreasi dan imajinasinya anak-anak akan menjadi lebih cerdas.

Sabtu, 27 April 2013

Resep masakan dimuat di Majalah Sekar.

Senang sekali saat mendapatkan sms dari seorang teman. Sms yang mengabarkan bahwa tulisan resep saya dimuat di Majalah Sekar Edisi 17 April-1 Mei 2013.

Bagi teman-teman yang ingin mencoba kirim resepnya, silahkan dikirim ke email Sekar@gramedia-majalah.com





Resep guramenya bisa dilihat di : http://bintaelmamba.blogspot.com/2013/02/gurame-bakar-bumbu-rujak.html

*



Rabu, 24 April 2013

Kartini tidak bergosip (Dimuat di rubrik gagasan Jawapos)

Alhamdulillah tulisan yang saya kirimkan emailnya pada hari sabtu tanggal 20 April 2013 bisa dimuat dalam rubrik gagasan Jawapos pada hari selasa 24 April 2013. 

Saya mencoba mempraktekkan trik yang pernah dibagikan oleh Pak Benny Ramdani dalam Grup PBA (Penulis Bacaan Anak), yaitu :
-Ketika ingin menembus media cetak, selain mempelajari karakter dan visi misi medianya, maka cara lainnya adalah menulis baik artikel, cerpen atau puisi dengan tema yang sesuai momen. Seperti Hari Kartini, hari pahlawan, hari Ibu dan lain-lain.
-Mengirimkannya sebelum jadwal terbit media yang dituju. Jika medianya terbit bulanan maka harus mengirim sebulan atau dua bulan sebelumnya. Begitu juga kalau harian atau mingguan.

Tambahan sedikit dari pengamatan saya, selain momen-momen yang terus berulang sepanjang tahun seperti hari-hari besar bisa juga kita menulis tentang isu-isu yang sedang booming, analisis dari sudut pandang kita untuk diramu dalam karya fiksi maupun nonfiksi tanpa maksud menghakimi. Saya pernah membaca cerpen berjudul 'Kepala Nurdin' dalam sebuah cerpen koran harian nasional. Saat itu sedang sering ditayangkan berita ketua PSSI Nurdin M Kholid di televisi. Cerpennya bagus dan menurut saya terpilih karena sangat pas momennya. 

Minggu, 07 April 2013

[Cernak] APEL MERAH YANG SOMBONG.

Alhamdulillah cerpen saya yang dimuat di Koran Konan, Radar Bojonegoro. Dimuat secara bersambung pada edisi 24 dan 31 maret 2013





                              APEL MERAH YANG SOMBONG.


Di atas sebuah meja makan. Dalam keranjang anyaman rotan yang cantik. Beragam buah di tata manis oleh Bik Inah.
Anggur hijau segar, apel merah merona, buah pear, jeruk mandarin, salak pondoh dan pisang ulin (pisang ukuran kecil berwarna kuning yang rasanya lembut dan legit).
“Wah kita berkumpul nih dalam satu tempat....” kata si buah apel sambil melihat-lihat jenis-jenis teman disampingnya.

“Sayang sekali kok nggak di bedakan tempatnya ya sama Bik Inah. Harusnya buah-buahan mahal dan cantik seperti aku dibedakan tempatnya.” si apel melanjutkan bicaranya dengan sombong.
“Kita ini sama kok, sama-sama buah yang mengandung vitamin dan baik untuk kesehatan manusia..” jawab salak.
“Iya sih. Tapi asal kita kan tidak sama. Aku, pear, jeruk mandarin dan anggur merah berasal dari luar negri... tau nggak? luar negri itu jauuuh. Kami di petik dan diterbangkan ke banyak tempat dunia karena kelezatan kami yang luar biasa“ cerita apel makin pongah.
“Dulu pada zaman raja-raja di negri padang pasir. Aku selalu jadi hidangan yang disukai raja lho “sambung si anggur merah menceritakan bahwa dirinya menjadi buah yang zaman dahulu menjadi kesukaan raja raja Arab. Dia ikut-ikutan si apel membanggakan dirinya.

Apel tertawa lebar. Sementara pisang ulin yang asalnya dari kampung jawa dan asli Indonesia menunduk sedih. Ia merasa memang tak pantas berada dalam satu keranjang bersama mereka para buah-buahan mahal. Yang sepertinya punya cerita hebat dan patut untuk dibanggakan.
“Nah sekarang dengarkan ceritaku... !!” sambil batuk-batuk kecil Si buah pear minta didengarkan.
“Kalian tahu kan kalau aku adalah buah yang banyak mengandung air. Sangat menyegarkan, menyehatkan dan kata dokter-dokter yang kerja di laboratorium itu daging buahku sangat bagus untuk menghaluskan kulit“ cerita pear kerena kemarin sempat mendengar perbincangan Bik Inah dengan temannya yang suka baca majalah.

“Dan lagi buah seperti aku ini nggak dijual di sembarang tempat. Dijual di supermarket dan toko buah yang bagus. Beda dengan kalian yang bisa dibeli di pasar pinggir jalan hehehe..”
Pisang ulin semakin sedih. Kalau saja bisa meloncat ia ingin keluar dari tempat itu.
“Aku juga hebat lho. Asalku dari negri china. Negrinya para pendekar jago kungfu hehehe..” jeruk mandarin tak mau kalah.
“Lihat itu salak.... !! sering dengar cerita kan kalau kebanyakan makan salak bisa susah buang air besar. Buang air besar jadi sakit sampai nangis nangis...” si apel kini bukan hanya sombong. Dia mulai menghina dan mencari-cari kejelekan kawannya.
Salak masih tersenyum mendengar perkataan apel.
“Semua makanan kalau kebanyakan pasti tidak baik. Begitu juga kebanyakan makan apel bisa membuat mencret” apel cemberut mendengar jawaban salak.

Ssssst... semua diam.
Meja makan sudah ditata rapi oleh Bik Inah. Semua makanan diletakkan di meja. Nasi, sayur asem, pepes ikan lele, ayam goreng tepung, urap-urap daun singkong, dan setoples kerupuk. Tak ketinggalan pula sekeranjang buah-buahan segar.

Jumat, 06 Juli 2012

PAHA AYAM BUAT NAFIS.



Cerpen anak yang dimuat di majalah Aku Anak Saleh, Desember 2011-Januari 2012/Muharam-Shafar 1433



Hari minggu adalah hari yang ditunggu Nafisah. Karena pada hari itu Bapak akan pulang dari kota Surabaya dengan membawa uang yang cukup banyak. Kata Ibu itu adalah bayaran Bapak bekerja selama seminggu sebagai buruh bangunan.
Pada hari biasa Ibu lebih sering membuatkan lauk tahu, tempe atau ikan asin. Tapi hari minggu Ibu akan memasak lauk istimewa seperti ayam, daging, bandeng atau telur. Kadang-kadang Bapak memberikan Nafis pilihan yaitu makan lauk ayam atau dibelikan es krim. Wah kadang Nafis suka bingung memilihnya. Karena dua-duanya dia suka.
Sabtu jam delapan malam. Gadis kelas empat SD itu belum bisa tidur.
“Kok Bapak belum pulang juga ya Bu?” tanya Nafis.
“Mungkin masih di jalan.” Baru saja Ibu menjawab tiba-tiba terdengar Bapak mengucapkan salam. Nafis segera berlari menyambutnya.

Senin, 02 Juli 2012

Anak-anak sepanjang jalanan makam


Cerpenku yang dimuat di majalah Embun, edisi 38,  Sya'ban 1433/Juni 2012.   



Makam waliyullah memang membawa berkah. Karena banyaknya pengunjung yang datang berziarah sehingga banyak orang yang meraup rupiah dengan berdagang apa saja disekitar makam. Termasuk mungkin berkah bagi kami anak-anak kecil. Ketika  banyak rombongan peziarah yang datang, maka dijamin uang jajan kami melimpah. bahkan terkadang bisa memberikan sisa uang pada Ayah untuk dibelikan rokok.
Menadahkan tangan merupakan bakat umum kebanyakan anak-anak disini. Tak ada yang melarang dan menganjurkan, apalagi mengajari. Seolah-olah ilmu alam yang kami dapatkan dari lingkungan.
Mengemis sudah seperti salah satu dari aneka permainan kami. Dengan mantra dan lagu yang kami hafal diluar kepala...

Minggu, 01 Juli 2012

HARI SURAM ROGLIK



Cerpenku yang dimuat di majalah Cahaya Nabawy, edisi 104/1 april 2012, dengan judul asli Hari suram Roglik yang kemudian diedit oleh redakturnya.So cekidot, smoga bermanfaat :)








Suasana pertemuan itu nampak meriah. Banyak asap mengepul membentuk rupa-rupa tiga dimensi yang menandakan sebuah wana diri. Ada yang serius bicara tentang trik-trik politik dan ada yang berjibaku dengan gosip-gosip romantis dalam rumpi ringan bersanding cemilan asam manis.
Di kursi besar berbahan rotan bersepuh emas itu terlihat tuan besar Dasim sedang sibuk membuka-buka lembaran data statistik yang baru saja dilaporkan beberapa rekannya.  Tampak beberapa kerutan di kening dan kulit sebelah tanduknya.

Sabtu, 31 Maret 2012

SAJAK BENANG KAPAS


               

Ada sajak ….
Dimana lembar rajutan benang kapas
Menjadi sebuah bunga rampai
Pelindung identitas

Menjadi jendela kaca
Bagi sang anggrek bulan
Bahkan …
Menjadi duri untuk sang mawar

Sajak itu …

Rabu, 30 Maret 2011

PERI NEGERI MATAHARI....

Pertama kalinya lolos menembus media, luar biasa rasanya...



Inilah karya itu...



          Alkisah di sebuah negri peri. Penduduknya dinamakan para peri negri matahari. Mereka adalah para peri yang selalu bersemangat menyambut pagi. Mereka juga selalu tersenyum ceria mengisi hari untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan. Maka tak heran jika seluruh penduduk dari negri matahari terkenal pintar dan selalu punya kelebihan yang mengagumkan

         Tetapi hari itu ada seorang peri kecil yang sedang menangis di tepi danau biru. Dia terlihat sangat sedih. Dan karena tidak ada seorang pun di sekelilingnya, maka dia menceritakan keluh kesahnya pada air danau dan ikan-ikan yang sedang berenang di dalamnya.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...