Tampilkan postingan dengan label Ramadhan 1433. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan 1433. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2012

Pesantren Ramadhan lansia, bukan panti jompo.

Saya tersenyum geli membaca berita VOA pada Sabtu, 28 Juli 2012, yang berjudul -Manula bernyanyi supaya lebih sehat-.

Saat ini ada 11 kelompok paduan suara di daerah Washington yang dinaungi oleh lembaga kreativitas manula Encore Creativity for Older Adults, dengan satu kelompok afiliasi di negara bagian Ohio. Encore beranggotakan 550 penyanyi dengan usia rata-rata 73 tahun, namun ada juga yang berumur 90an.

Riset pada tahun 2001 itu membandingkan 150 peserta dengan sekelompok manula yang tidak aktif. Hasilnya, para penyanyi itu memiliki moral yang lebih baik, dengan tingkat depresi yang lebih rendah dan kesehatan secara umum yang lebih baik.

Bukannya hendak ingin mengomentari berita tersebut, kemudian mengkritik atau memberikan solusi. Hanya saja saya jadi teringat kemarin baru saja mengunjungi nenek yang sedang ikut pondok romadhon lansia di Masjid raudhotul 'Arifin, Cukir (lokasinya dekat dengan ponpes tebu Ireng, makam Gus Dur)


Masjid yang terdiri dari 2 lantai itu disulap menjadi seperti tempat penampungan para lansia. Isinya nenek-nenek semua (ya iyalah.. ^^) Selama Ramadhan mereka tidur, makan dan beraktifitas di masjid tersebut. Nenek-nenek tersebut berasal dari daerah sekitar Cukir dan Jombang. Beberapa juga berasal dari luar jombang.

Minggu, 22 Juli 2012

Oseng terong sambel ijo.

Resep yang aku dapat dari chating dengan seorang teman maya. Bu Upik Sivaananda namanya.
Setelah dicoba di dapur dengan nambah ngurangin bahan-bahan tertentu (menyesuaikan dengan bahan yang mudah didapat sih) ternyata masakan itu jadi favoritnya suami. Uenak katanya hehe..

Baiklah, ini resepnya :

Sabtu, 21 Juli 2012

Mari mencintai kembali kuliner asli negeri sendiri.

Sekotak kue-kue itu kenapa tak lagi menarik perhatian anak-anakku?
Ada kue mendut, nogosari, apem, ketan salak, tetel (yang di beberapa daerah lain dinamakan jadah), ada juga jenang (biasanya disebut dodol).

Sekotak kue yang lazim diberikan oleh tetangga-tetangga yang mengadakan selamatan itu sama sekali tak menerbitkan selera anak-anak zaman sekarang? pertanyaan miris yang seringkali kulontarkan. Mereka lebih suka jajanan ringan dengan kemasan berwarna-warni yang dijual di toko-toko. Padahal saat aku kecil dulu, membuka berkat[1] bawaan Bapak yang baru pulang menghadiri acara selamatan, syukuran atau hajatan lain-lain, yang biasanya dibagikan makanan dan beragam kue tradisional, aku selalu rebutan dengan saudara-saudara yang lain.

Gambar berasal dari sini.

Anak-anak sekarang terkadang lebih tertarik dengan jajanan yang sering diiklankan di layar kaca, snack yang tidak mengenyangkan, minim gizi dan harganya juga relatif mahal. Biasanya juga menawarkan ikon-ikon rasa tertentu yang 'luar negeri' banget. Seperti rasa barbekyu, rasa pizza dan lain-lain. Juga makanan-makanan  cepat saji yang iklannya sungguh sangat sangat sangat gencar (saya menyebutkan tiga kali karena memang kenyataannya sangat sering melebihi iklan makanan lainnya) juga selalu mencuri perhatian anak-anak ketika melihat televisi. Mereka selalu merajuk meminta dibelikan makanan-makanan tersebut dengan wajah sangat antusias, beda sekali rautnya saat disodori kue mendut atau apem. Duuh..

Dan menurut analisaku adalah,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...