Tampilkan postingan dengan label Tulisan yang diikutkan lomba.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan yang diikutkan lomba.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Desember 2013

Penolong Anak-anak Yatim

Kembali lagi menulis tentang -Keajaiban Cinta- yang nyata saya jumpai di lingkungan dekat tempat tinggal saya.

Terkadang kita bilang film atau sinetron itu lebay. Begitu juga novel-novel romance buah imaji para penulis. Novel harus dimirip-miripkan fakta, sementara fakta kehidupan sendiri terkadang jauh lebih lebay dan tidak masuk akal melebihi sinetron maupun novel.

Saya akan menceritakan satu kisah seseorang lagi dengan nama samaran. Karena tidak semua orang bersedia kisahnya dinarsiskan.

Seorang perempuan sebut saja namanya Mbak Ika, dia perempuan yang dianugerahi wajah yang awet muda. Saat berumah tangga selalu mengalami kegagalan saat mencoba kontrasepsi, jadilah dia beruntun punya anak dengan jarak yang rapat sampai 5 orang anak. Kejadian yang membuat dia kadang jadi bahan nyinyiran orang, bahkan bidan-bidan posyandu agak-agak mencibir. namun si mbak Ika termasuk eazy going yang lebih suka tersenyum daripada meratapi nasib. Hidup terus bergerak bukan? dia mengasuh anak-anaknya -yang pasti riweh dan melelahkan itu, 5 anak-anak gitu loh, yang balita masih ada sejumlah 3 anak kalau nggak salah-.

Selasa, 10 Desember 2013

Cinta dan Hemodialisa

Kata mbak Riawani Elyta : "Ada banyak kisah nyata tentang keajaiban cinta di sekeliling kita, tentang cinta seorang suami pada istri yang mengalami kecacatan mental, tentang cinta seorang pengemis yang sanggup menembus kobaran api demi menyelamatkan kucing-kucing yang terperangkap dalam gedung. Tentang kasih sayang seekor hewan pada majikannya yang sudah tiada hingga ia sanggup menziarahi makam majikannya setiap hari.. dan lain sebagainya.."

Dan agaknya saya juga punya kisahnya. Bukan kisah tentang saya sih, tapi kisah orang lain, sebut saja namanya Hanif dan Zulfa. Nama yang saya samarkan tentu saja, untuk menghormati privasi.. yeaaa karena nggak semua orang itu  suka kisahnya dinarsiskan orang lain tanpa ijin hehe..

Tahukah anda tentang hemodialisa?

Rabu, 20 November 2013

Liku-liku Menjadi Ibu dalam Sebuah Buku.


Judul Buku : Dont Worry to be a Mommy!
Penulis : Dr Meta Hanindita
Penerbit  : Stiletto Book
Genre : Nonfiksi – Ibu dan anak.
Jumlah Halaman : 171 Halaman.
Terbit  : Cetakan pertama September 2013.

ISBN : 978-602-7572-18-8
-------------------------

Membaca buku itu terasa menyenangkan saat bisa menyelami pemikiran penulisnya yang ia tuangkan dalam rangkaian kata-kata. Dan lebih menyenangkan lagi jika menemukan fakta bahwa pemikiran saya ada yang sama dengan penulis. 

Begitulah kira-kira perasaan saya saat membaca lembar demi lembar buku bersampul merah muda itu. -Dont Worry to be a Mommy!- karya Dokter Meta Hanindita. 

Buku yang menyampaikan berbagai informasi bermanfaat seputar ibu dan anak itu juga menyertakan pengalaman pribadi penulis sebagai seorang doter sekaligus ibu baru.

Sesungguhnya kehidupan perempuan itu ketika memasuki dunia pernikahan akan langsung dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Ketika mempunyai anak, pilihan-pilihan itu semakin beragam dan terkadang saling berbenturan membentuk 2 kubu yang saling bertentangan. Seperti pilihan memberikan susu formula atau ASI, memakaikan gurita atau tidak, memakaian diapers atau clodi, sampai ditinggal kembali berkarir atau nekat resign demi lebih banyak waktu merawat buah hati. 

Minggu, 20 Oktober 2013

Sinergi Keikhlasan Antara Guru, Murid dan Walimurid.

Beberapa hari yang lalu saya sempat merasa jengah dengan sebuah masalah yang terjadi dalam paguyuban (komunitas) wali murid di sekolah anak sulung saya, Fahri.

Masalah pertama, adalah saat anak-anak kami naik kelas 2 MI (SD), salah seorang wali murid mengembalikan buku paket dari sekolah karena menemukan di toko buku dengan harga yang lebih murah. Wali murid tersebut mengkalkulasi selisih harga total buku dari sekolah dan di toko kurang lebih seratusan ribu. Hmm.. padahal jika membeli di sekolah itu boleh dicicil selama 6 bulan (untuk meringankan walimurid yang ekonomi pas-pasan)

Pihak sekolah memang tidak mewajibkan membeli paket buku tersebut, namun selama ini selalu diorganisir oleh guru-guru sekolah. 

Masalah kedua terjadi lagi tak lama setelah anak-anak kami menghadapi ulangan harian. Soal-soal yang sudah diberikan nilai oleh guru-guru itu diberikan kepada murid-murid untuk dibawa pulang dan diperlihatkan kepada orang tuanya masing-masing. Kemudian ternyata ada beberapa soal yang kurang teliti mengkoreksinya dari beberapa murid. Hal itu dipermasalahkan dengan agak emosi, sampai-sampai walimurid itu meminta gurunya diganti, tak mau anaknya diajar oleh salah satu guru yang salah koreksi tersebut. Walimurid itu menilai guru tersebut kurang cakap dalam mengajar, dan dia kurang puas.

Rabu, 02 Oktober 2013

Ada Saatnya Harus Menjadi 'Mother Monster'

Saya mungkin orang tua yang tak begitu menerapkan teori-teori yang pernah diberikan olah para pakar pendidikan anak, baik itu yang terdapat dalam artikel, buku atau seminar. Pada kenyataannya selain teori itu susah dipraktekkan tetapi juga ternyata tak semua cocok untuk semua anak-anak yang sangat beragam karakternya

Sesungguhnya watak atau karakter anak tentulah yang paling mengenalnya adalah orang tua. Orang yang menemani aktifitasnya selama 24 jam, dan harusnya yang paling mengerti cara penanganannya juga orang tuanya, bukan orang lain. Tak semua kata-kata psikolog atau anggota komnas perlindungan anak teorinya harus dipatuhi. Ada beberapa hal yang harus disesuaikan dengan kondisi tertentu saat berinteraksi dengan anak.

Teori-teori yang agaknya kurang saya patuhi adalah :

1. Jangan pernah berkata dengan nada tinggi kepada anak, karena akan membunuh benih-benih kreatifitasnya.

Ahay... dalam hal ini, jujur saya akui kalau saya meski tidak sering tapi pernah juga berkata keras atau membentak kepada anak. Saya berpendapat bahwa berkata dengan keras itu juga perlu, tergantung keadaannya. 

Kamis, 29 Agustus 2013

[Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak] Mengulik nostalgia di Pesantren.


Kopi, seolah memang telah menjadi teman hidup saya, dari kecil sampe sudah berumah tangga menjadi emak-emak sekarang. Sehari tak berjumpa aromanya saja seolah hilang semangat dan kepala nyut-nyutan. Orang kampung saya bilang itu namanya 'ndakik' alias kecanduan. Ya emang nyandu sih, tapi inysaAllah nggak apa-apa, lambung saya baik-baik saja sampai saat ini karena saya meminumnya pun menjaga jangan sampai berlebihan.

Saya mempunyai begitu banyak cerita yang mengiringi momen-momen manis saya bersama kopi. Dan terkadang dengan menyesap kembali kopi yang sama, atau bahkan hanya dengan melihat bungkus mereknya saja saya seolah terbawa kembali mengarungi kenangan manis itu. Salah satunya adalah bersama “Kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak”



Kopi itu membuat saya terkenang kembali pada masa-masa indah dulu saat masih unyu-unyu^^. Saat masih menimba ilmu di Pesantren. Menjadi seorang santriputri yang penuh aktifitas, semangat dan juga keceriaan bersama sahabat-sahabat senasib seperjuangan.

Di pesantren itu kami santri-santri diwajibkan menghafal pelajaran yang diringkaskan melalui syair-syair berbahasa arab. Jadi semacam kata kunci untuk menjabarkan sebuah bab pelajaran-pelajaran agama. Ulama-ulama’ zaman dahulu meringkasnya dalam syair-syair yang runut dan mudah dihafalkan dengan cara dinyanyikan dengan irama tertentu. 

Selasa, 25 Juni 2013

Musik asyik versiku, dulu dan sekarang...

Jika berbicara tentang musik. Jujur, sejak jadi emak-emak saya sudah sangat kudeeeet (Intonasi ala Raditya Dika dalam iklan mie instan). Kurang apdeeeet begitulah istilahnya. Yaitu kalian tak akan mendapati diri ini menjadi teman ngobrol yang asyik saat mengobrolkan tentang musik, penyanyi atau ajang-ajang pencarian bakat menyanyi yang sedang dan sangat hangat dibicarakan.

X Factor misalnya... sesungguhnya saya mengerti dan kenal nama Fathin Sidqiya Lubis itu ya dari facebook. Dari status-status yang bertebaran di beranda saat harinya X Factor tayang. Karena memang saya nggak pernah lihat acaranya sih.

Trus kemarin sebelum haflah akhir sanah di sekolah Fahri, sulung saya sempat hafaaal banget sebuah lagu yang liriknya --kira-kira-- begini :

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang... euyy
Duli ditendang sekarang ku disayang.. euyyy..
Dulu-dulu-dulu aku menderita...
Sekarang hidupku bahagiaaa...

Cita-citaku menjadi orang kaya.. euyy
.....

Ya kurang lebih seperti itu, entah judulnya atau penyanyinya bertitel 'Tegar'... mohon maklum saya emang bener-bener nggak hafal dan belum pernah lihat tayangan klipnya di televisi (kerjaan saya lebih sering depan lepi ngefacebook or ngeblog daripada nonton tivi ^^). Dan pas acara hari H haflah sekaligus gebyar seni sekolahan ternyata lagu itu dibawakan oleh seorang teman Fahri di atas panggung. Dan biyuuuh.. ternyata semua anak hafal dan ikut menyanyikannya... saya baru ngeh.. eh berarti itu lagu lagi booming ya? segitunyaaaa hehehe.... bener-bener nggak apdet kan ya?!

Tapi tunggu dulu..! kan ceritanya saya lagi nulis buat postingan yang diikutkan lomba tentang musik, yang diadakan oleh grup keren Emak-Emak Blogger bekerjasama dengan LangitMusik. Jadi meskipun sekarang saya emang nggak apdet tentang musik yang lagi trend dan banyak dibicarakan. Tapi dulu saya juga sempat jadi anak nongkrong MTV loh, saat saya masih unyuuu.. coba tebak! saat saya unyu itu tahun berapa? :D
Ya kira-kira tahun 90an deh.. (saya lulus Madrasah Aliyah/SMA tahun 2000).

Dulu sempat suka lihat klip-klip luar negeri tapi sayangnya saya nggak mahir dan fasih ngomong inggris. Heuheu.. jadi ya malu lah sok sok-an nyanyi inggris, jaman itu juga sedang banyak lagu-lagu dari band Malaysia yang populer di Indonesia. Nah saya sangat amat sukaaa dengan lagu-lagu negeri tetangga tersebut. Ada Gerimis Mengundang, lagu sendunya band Slam, vokalisnya ganteng bernama Zamroni Ibrahim *apal banget*, kemudian grup bernama iklim nama vokalisnya Salim.. lagunya Suci Dalam Debu syahdu banget didengarnya. Ada juga lagu Buih Jadi Permadani dari band Exit yang saya sangat suka liriknya, tapi lupa siapa nama vokalisnya. Penyanyi-penyanyi solo seperti Siti Nurhaliza, Ziana Zain, dan lain-lain juga banyak sekali yang saya suka. Irama musik melayu yang khas mendayu-dayu itu cocok sekali dengan selera dengar saya.. rasanya seperti dibelai semilir angin yang gimanaa gitu *lebay :D* Wah bisa dibilang saya suka banyak sekali musik dan lagu-lagu dari orang Malaysia saat itu melebihi musik dari dalam negeri sendiri. Heran juga.. sekarang kok nggak ada ya impor lagu dari sono lagi? apa karena intrik klaim mengklaim kebudayaan yang terjadi beberapa waktu terakhir ini, atau karena main bola musuhan indonesia kalah melulu.... wallahu a'lam sih, nggak usah bahas itu ah. Nggak ada ya sudah nggak apa-apa, saya masih bisa hidup kok hehe...

Gerimis mengundang...
Sumber : Youtube.

Kamis, 20 Juni 2013

Icip-icip Teh Manis Ayah

Ikutan even dari Sariwangi... silahkan mampir ya temans^^.. 
Mohon vote dan komennya jika berkenan disini : http://mari-bicara.com/momen/icip-icip-teh-manis-ayah.html
--------------------------------------------------------------------------

Kami merupakan keluarga yang termasuk banyak punya waktu untuk berkumpul setiap harinya. Kerja suami saya yang wiraswasta hanya sampai jam 12 atau jam 1 siang hari. Anak sulung saya juga sudah pulang sekolah jam 11. Jadi banyak sekali waktu bertemu dan berkumpul. Namun saya tetap mewajibkan berkumpul yang benar-benar berkwalitas dan bisa menautkan hati masing-masing kami dalam kedekatan. Biasanya waktu itu adalah pagi sebelum mereka semua berangkat beraktivitas. Saya menyiapkan semua keperluan mereka. Sarapan dan tak lupa minuman hangat teh sariwangi untuk suami. Susu untuk anak-anak dan kopi untuk saya. Memang beda selera sih, tapi ya lucunya kadang kami saling icip minuman yang lain hehe.. saya dan anak-anak sering ikut icip-icip teh punya Ayah. Dia tak marah asalkan esok dibuatkan di gelas yang lebih besar. Supaya kalau jadi sasaran icip-icip kami, ayah masih punya sisa yang banyak dan bisa puas.


Tak ada istilah tidak menghargai ayah atau suami karena memberikannya sisa icip-icip kami. Karena sudah terjalinnya kasih sayang dan saling percaya diantara kami.

Kamis, 02 Mei 2013

Stop Adegan Mabuk Minuman Keras Dalam Layar Kaca atau Tulisan Fiksi !



Sering melihat tayangan televisi yang berupa adegan mabuk?

Kalau saya, sering sekali. Di tayangan produksi Indonesia maupun luar negeri. Kebanyakan adegannya dramatis menggambarkan seorang tokoh yang putus asa, putus cinta, bisnis hancur karena dicurangi, dan lain-lain. Namun ada juga yang malah menjadi ikon sebuah kehebatan ilmu bela diri. Saya ingat betul serial kungfu Drunken Master (meski perempuan, saat kecil saya penyuka film silat dan kungfu hehehe..) yang pendekarnya menjadi semakin hebat ketika dia mabuk, kungfunya akan menjadi tak terkalahkan seusai meminum segentong tuak. Musuh-musuh dapat dengan mudah dilumpuhkan ketika si pendekar berkungfu dalam keadaan mabuk. Dulu saya dan teman-teman masih sangat belia, bahkan masih terbilang usia anak-anak ikut mengangumi aksi-aksi si pendekar mabuk, mengidolakan bahkan menirukan beberapa gerakannya. Karena unik, lucu dan memang terlihat menarik.

Aksi pendekar mabuk. Gambar berasal dari SINI.

Ada juga di beberapa tayangan digambarkan beradu tanding resistensi tubuh terhadap alkohol. Membuat lomba minum, siapa yang mabuk duluan berarti kalah. Dan juga digambarkan minum-minum tidak hanya sebagai luapan kesedihan namun sebagai hal yang wajar untuk merayakan sesuatu, sebuah pesta dikatakan belum lengkap jika tidak diakhiri minum sampai mabuk. Ckck.. miris.

Kalau pada karya tulis, semisal fiksi, novel, cerpen dan semacamnya? pernah nggak melihat adegan tokoh yang mabuk?

Senin, 29 April 2013

Dukungan ibu untuk hebatnya buah hati.

27 April 2013 kemarin. Saat sulung saya si Fahri berangkat ke SD Al-Ummah untuk semi final lomba sains, saya teringat sebuah fakta ironis tentang teman-teman Fahri. Lebih tepatnya teman-teman Fahri yang berprestasi dan dukungan orang tuanya.

Rizki, teman sekelas Fahri di MI Mujahidin. Anaknya pintar, rajin dan mendapat peringkat kelaske-2 saat Pembagian raport semester kedua. Namun sayang dia tidak bisa ikut dalam lomba sains dikarenakan keterbatasan ekonomi orang tuanya. Hmm... mungkin kurang tepat kalau dikatakan keluarga tidak mampu, Bapaknya Rizki setiap hari bekerja sebagai penjual jajanan pentol berkeliling ke sekolah-sekolah termasuk juga ke sekolahnya Rizki dan Fahri. Beliau pekerja keras, namun memang waktunya lomba mungkin bersamaan dengan keadaan yang tidak memungkinkan mereka untuk merelakan uang sebesar 35.000 rupiah untuk biaya pendaftaran lomba sains itu. Karena si Rizki baru saja punya adek bayi yang pasti masih harus mengeluarkan biaya-biaya mengurus bayi diluar kebiasaan pengeluaran mereka sehari-hari. Namun dia menurut saja keputusan orang tuanya untuk tidak ikut lomba. Hmm sayang sekali...

Ada lagi Fikri, teman sekelas Fahri juga. Dia juga pintar dan cerdas dan boleh ikut lomba oleh orang tuanya. Namun sayang sekali ketika sudah lolos dan masuk babak semifinal bersama Fahri dan 1 temannya yang lain  dari kelas 1 MI Mujahidin, Ibunya malah kelihatan tidak suka. Kami ibu-ibu wali murid yang sering bertemu saat menjemput sekolah menjadi heran, kenapa sih kok nggak suka? Ibunda Fikri malah menjawab dengan enteng... "Males dan riweh antar-antarnya kalau nanti makin jauh tempat lombanya, kalau beneran ke jakarta gimana? males dan capek nanti". Kami yang mendengar geleng-geleng kepala masih menyayangkan sikap Ibunda itu yang terang-terangan berkata kepada putranya bahwa dia mando'akan kalau menjawab soal nanti semoga salah semua ckckck.. ini ironis tapi bener-bener nyata. Mungkin saja ibunda Fikri memang tipe ibu yang sangat protektif atas kesehatan anaknya yang selama ini diceritakan memang gampang dan sering sakit. Mungkin saja dia tidak mau anaknya sakit karena capek. Entahlah...

Semua ibu sebenarnya ingin menjadi moms hebat yang mengupayakan apa saja yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun mungkin memang keadaan dan nasib yang membuatnya menjadi berbeda. Seperti kisah Rizki diatas, saya menyayangkan sekali melihat anak cerdas namun kehilangan kesempatan mengasah kecerdasannya lebih baik melalui kompetisi dan pelatihan-pelatihan tambahan oleh guru sekolahnya (bagi yang ikut lomba diberikan les khusus oleh pihak sekolah MI Mujahidin). Tak bisa membantunya dikarenakan sudah keputusan orang tua yang punya hak penuh atas Rizki. Bapaknya Rizki tipe pekerja keras yang tidak gampang menadahkan tangan, saya yakin tahun depan saat keadaan lebih memungkinkan pasti Rizki dapat ikut serta dalam lomba itu.

Jumat, 26 April 2013

Perempuan sempurna itu harus seperti pertamax.



Semua perempuan itu ingin merasa sempurna, atau setidaknya terlihat sempurna. Namun paradigma berpikir tentang perempuan sempurna harus yang bagaimana?

Saya pernah dicurhati oleh sahabat lama, lewat sms-sms di sela memasak atau menyetrika pakaian (kami sama-sama ibu rumah tangga). Karena sebuah alasan medis, sahabat saya itu terpaksa harus melahirkan cesar. Kemudian saat menyusui bayinya pun dia mengalami masalah. Kulit sensitif yang membuat putingnya pecah berdarah-darah hingga menangis dan mengeluh sangat sakit saat menyusui.

Belum berhenti sampai disitu, usai melahirkan anak pertamanya belum genap setahun dia sudah melahirkan lagi. Bayi kedua belum sempat berbilang tahun dia sudah melahirkan lagi. Jadi sukseslah dia memiliki 3 balita dengan jarak rapat. Bukankah itu karunia? mengingat banyak juga pasutri lain yang susah untuk mendapatkan keturunan dengan cepat.

Ternyata bagi beberapa orang yang melihatnya ternyata itu bukan karunia yang patut diapresiasi dengan positif. Sebagian orang (yang masih kerabat) malah ada yang merespon kurang menyenangkan lewat kata-kata. Opini yang disampaikan di belakang dan di depan orang yang bersangkutan itu rasanya seperti tekanan yang menyakitkan.

Sebagai pendengar curhat saya agaknya bisa merasakan rasa tertekan pada sahabat saya itu. Ketika ada yang nyinyir mengatakan bahwa dia perempuan yang nggak mau merasakan sakitnya kontraksi melahirkan normal karena cesar. Masih banyak juga yang kekeuh berpendapat bahwa -belum jadi perempuan beneran kalau belum pernah merasakan melahirkan lewat 'jalur yang benar'-. Padahal oprasi cesar juga terkadang ada yang lebih menyakitkan, saat tubuh tak bersahabat dengan proses anesthesia (pembiusan), saat tubuh alergi terhadap obat bius bisa mengakibatkan kematian atau gangguan kesehatan fisik yang lebih menyakitkan. Bekas luka akibat operasi juga berakibat jangka panjang, ketika sedang tertawa atau batuk akan terasa nyeri seperti digigit semut, rawan sakit punggung dan juga hernia. Jika tidak tepaksa semua orang yang faham atas resiko tersebut pasti juga tak akan memilih melahirkan cesar.

Gambar berasal dari SINI.


Kemudian ada juga yang memandang sinis tentang keberadaan 3 balita yang rapat dalam pengasuhannya, pengasuhan orang tua yang dianggap belum mapan tapi dinilai sudah terlalu pede untuk mempunyai banyak anak. "Kok nggak mau KB sih?  zaman sekarang kan  sudah maju tidak seperti dulu.. punya anak bisa direncanakan, bisa diatur..". Wah itu kan menurut teori manusia. Pada kenyataannya Tuhan menciptakan masing-masing fisik seseorang itu berbeda satu sama lain. Alat dan bahan-bahan kontrasepsi belum tentu cocok pada tubuh semua orang. KB dengan cara kalender atau alami juga rawan kegagalan bagi  perempuan yang sudah bawaannya gen subur dalam reproduksi. Fisik sahabat saya termasuk limited edititon yang ternyata menolak berbagai jenis kontrasepsi, satu persatu dicoba namun mengakibatkan gangguan serius pada kesehatannya.


Rabu, 24 April 2013

Mencintai dengan cara kami.




"Hobi pean apa?" Tanyanya di sms, beberapa waktu sebelum menikah.
"Hmm.. menulis, aku pengen sekali jadi penulis, pean mau kan mendukungku?" jawabku sembari mengimbuhi dengan balik nanya. 
"InsyaAllah aku dukung sebisanya.." jawabnya, masih dengan sms pada hape jadul kami.
.....
Usai smsan aku mengembalikan hape tak berwarna itu kepada bapak. Hape yang jaman dulu sudah sangat mewah di rumah kami, dan hanya bapak yang punya, saya belum pernah membayangkan bakal bisa pegang hape sendiri. Rasanya amat terlalu mewah.

Saya dan suami hanya sempat berkenalan dan sms-an kurang lebih sebulan saja sebelum menikah. Itu juga dengan memakai hape bapak saya, dan sungguh masih sangat gapteknya saya dulu belum bisa mematikan nada pesan masuk mengubah menjadi getar, untungnya sih sudah mengerti cara menghapus pesan-pesan beruntun kami supaya tidak dibaca bapak hehehe.. (tahun berapa sih, bu nikahnya? ntar ya, baca dulu lanjutan cerita saya ^^).

Dan setelah menikah, saya sih tak begitu menagih apa-apa janji suami saya tentang dukungan menulis itu. Tahu diri dengan melihat kenyataan bahwa perekonomian kami jauh dari kata 'stabil'. Untuk menambah modal usaha suami yang wiraswasta, saya harus mengikhlaskan komputer yang belum setengah tahun dibelikan bapak harus dijual, namun ternyata usaha yang dibangun gagal dan malah meninggalkan jejak hutang yang membuat kami susah payah untuk membayarnya. Tak apa-apa lah saya tak lagi mengharap komputer itu kembali, sudah saya fokus momong anak saja deh. Pikir saya, saya melupakan mimpi saya itu meski sesekali masih mengisi waktu dengan coret-coret di dalam buku dan menyimpannya di lemari. 

Saya  lupa dan tak lagi peduli, namun ternyata suami saya tidak lupa, setelah bertahun berlalu dengan kerja keras suami, menabung sedikit demi sedkit, suami saya berhasil menghadiahi saya sebuah netbook mungil.
'Buat pean.. agar bisa kembali menulis," ihiks.. haru dong... setelah saya punya dua bocah kecil dia masih ingat dengan keinginan saya itu.

Berselang tahun (selalu ditepatkan pada hari lahir saya.. sok niru acara di tivi gitu), dia juga menghadiahi saya sebuah printer, katanya agar tak lagi wira wiri ngeprint naskah ke warnet kalau mau ikut lomba nulis.


Ruang menulis saya, kursinya sering berfungsi juga sebagai sampiran jilbab dan kerudung, kadang juga baju atau jaket hehe.. 


Dan yang tak kalah penting untuk istrinya yang pelupa, suka kelewat detlen dan lupa tanggal, dia membelikan saya kalender khusus tanpa gambar, hanya berisi angka-angka besar, ada notes di pinggirannya tempat saya menulis detlen event-event yang sedang saya incar. 

Selasa, 16 April 2013

Riawani Elyta, mengambil inspirasi jernih dan membuang yang keruh.


Karena hidup adalah persinggahan
Maka harus diisi dengan sebaik-baiknya amal, amal yang bisa dipertanggung jawabkan di hadapan pencpita kita kelak



Riawani Elyta..

Dia adalah perempuan inspiratif menurut versi saya, karena saya perempuan yang sedang belajar menulis tentu saja terinspirasinya dari penulis yang senior.

Saya mengenalnya hanya di sosial media, semenjak ibu 3 anak ini mulai menapakkan jemari di dunia menulis,  dulu pernah bareng-bareng ikut audisi antologi dan lomba-lomba di facebook. Namun karena komitmen, disiplin waktu, kecerdasan dan ketepatannya dalam menerawang selera pasar plus selera editor penerbit menjadikan perempuan yang konon wajahnya agak mirip artis Nia Ramadhani itu melesat lebih cepat dari teman-teman seperjuangannya, lebih sering memenangkan lomba bergengsi dan tulisannya diterbitkan oleh penerbit ternama plus beberapa kali cetak ulang.



Mirip kaaan.. sama menantunya Bapak Abu Rizal Bakrie itu ^^..


Mbak Riawani Elyta ini merupakan penulis novel yang mungkin sama dengan penulis-penulis perempuan yang lain. Namun ada sesuatu yang membuat saya ketika melihatnya menjadi berbeda. Beliau ini sering memberikan tips-tips menulis secara gratis melalui note facebook, blog maupun internal di sebuah komunitas group. Saya sering mengikuti tulisannya seputar tips dan motivasi menulis. Juga membaca beberapa novelnya.

Penulis yang banyak melahirkan buku bergenre novel romance ini mempunyai rasa khas tersendiri dalam setiap tulisannya. Meskipun genre yang diusung adalah romance, eksplorasi cinta-cintaan ala remaja dan manusia pra dewasa, namun tulisannya cenderung santun tapi tetap memikat dan nikmat dicerna indera pengecap kata oleh pembacanya. Pesan moral yang dapat saya garis bawahi setiap menuntaskan novel mbak Ria ini adalah sefaham dengan idealisme saya tentang menolak segala bentuk pelegalan hubungan seks pranikah. Beliau menggambarkannya tidak saklek seperti khutbah namun bisa melebur bersama karya sehingga pembaca tak merasakan kalau ia sedang 'dirasuki' nasehat yang mencerahkan. (maaf kalau belepotan saya mengistilahkannya).

Sabtu, 13 April 2013

Optimalkan perkembangan otak plus akhlak buah hati.

Sebagai orang tua sudah sepatutnya kita berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik kepada anak.  Sejak dalam kandungan, saat lahir dan tumbuh kembangnya dimasa usia emas satu hingga lima tahun dan juga kelanjutannya hingga dewasa dan bisa mandiri.

Begitupun saya sebagai ibu dari 2 anak yang alhamdulillah terlahir sehat tanpa cacat fisik. Semenjak dalam kandungan saya berusaha memberikan yang terbaik, selain menurut pada nasehat-nasehat orang tua, calon kakek dan nenek anak dalam kandungan saya, tetap saya juga menyaring info yang masuk, tak semua nasehat saya telan bulat-bulat kemudian saya aplikasikan. Saya juga mencari penyeimbang info yang bertumpu kepada ilmu pengetahuan ilmiah dan hasil penelitian yang akurat.

Menurut info yang saya baca, kecerdasan anak itu bisa diusahakan semenjak ia masih di dalam kandungan. Untuk perkembangan otak anak, sejak dalam kandungan ibu bisa mensuplai nutrisi makanan yang bermanfaat untuk mengoptimalkan janin tumbuh maksimal di rahim ibu.

Minggu, 07 April 2013

Memeluk sepenuh waktu pada usia emas.

Usia emas pada lima tahun pertama adalah sesuatu yang tak akan terulang seumur hidup. Sehingga saya ingin berusaha memeluk sepenuh waktu pada anak-anak saya dalam usia tumbuh kembangnya. Melihat perkembangan anak dari menit ke menit saja rasanya sungguh seperti melihat keajaiban-kejaiban baru yang terus dilimpahkan. Rugi sekali rasanya ketika anak kita mulai bisa bicara yang mendengar kata pertamanya adalah orang lain, begitu juga ketika mulai bisa berjalan, ketika bisa melepaskan pegangan jemari kecilnya saat menitah kemudian menyaksikan langkah pertamanya yang masih kaku dan takut-takut jatuh itu kalau bisa saya sebagai ibunya lah yang memberikan pertama kali menyambutnya dengan kata-kata penyemangat "ayo bangkit sayang, jangan takut jatuh!".

Kedua anak saya Fahri dan Zahra alhamdulillah tumbuh normal dan sehat, Fahri mulai bisa berbicara dan berjalan tepat pada usia 13 bulan secara bersamaan. Sedangkan Zahra malah 12 bulan sudah bisa, secara bersamaan juga antara mulai jalan dan bicara.

Fahri dan Zahra


Kecerdasan dalam tumbuh kembang anak sungguh bukanlah karena faktor genetik semata, sebab pengalaman saya dulu sempat ge-er dan nyantai saja saat mertua saya bilang Ayahnya Fahri Zahra dulu 9 bulan sudah bisa berjalan. Wah, banyak yang bilang pasti anak-anak saya juga bisa secepat itu perkembangan 'bisa jalan'nya. Saya senang sekali mendengarnya, namun setelah usia sembilan hingga sepuluh bulan Fahri belum ada tanda-tanda mulai mau berjalan sendiri tanpa dititah (dipegangi jari tangannya), saya mulai panik dan berpikir logis, "Oh ternyata salah kalau tumbuh kembang anak itu bisa terjadi secara genetis tanpa stimulasi dari orang-orang terdekatnya".

Sabtu, 30 Maret 2013

Hadiah Lomba Sains.

Fahri bersama adiknya Zahra, kedua-duanya sangat aktif dan tak mau diam, selalu saja ada  tingkahnya yang membuat rumah kami ramai.
*** 



Terkadang orang sering salah ucap ketika sedang capek dan lelah melihat tingkah laku anaknya pada usia pertumbuhan. Saya pun demikian, ketika merasakan lelah dengan tingkah polah anak laki-laki saya, si Fahri. Saya menyebutnya sebagai anak yang nakal, aktif, super aktif bahkan hiperaktif. Padahal ternyata sebutan yang terakhir itu salah.

Saya diberitahukan oleh seorang teman bahwa aktif dan hiperaktif itu berbeda.
Pada anak aktif otaknya normal tanpa gangguan, hanya saja energi yang dipunyai berlimpah sehingga seorang anak mempunyai keinginan untuk terus bergerak sehingga ia tampak lebih 'tak bisa diam' dibanding anak-anak lain.

Sedangkan hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama kurang mampu memusatkan perhatian. Gangguan itu disebabkan oleh kerusakan kecil pada sistem syafaf pusat dan sehingga menyebabkan rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan susah dikendalikan. Perilaku anak sangat aktif diluar batas wajar dan susah mengontrol emosinya.

Ditambah dari membaca info-info di website yang bertebaran dan juga menonton tayangan-tayangan televisi tentang tumbuh kembang anak, ternyata saya salah besar telah menjuluki Fahri sebagai anak yang hiperaktif. Toh selama ini dia masih bisa fokus saat saya memberikan intruksi dan berbagai stimulasi untuk tumbuh kembangnya. Saat diajari mengaji dia masih bisa menyerap pelajaran tapi tetap sambil bergerak, kaki digoyang-goyang, tangan memukul-mukul kursi dan ada saja yang membuatnya bergerak. Rasanya ketika 5 menit saja saya coba suruh diam dia akan kesemutan deh, kadang seolah dia bisa diam sejenak namun ketika saya amati jari-jari kecilnya masih bergerak bergoyang-goyang di belakang punggungnya hehehe..

Belum lagi ketika bermain. Dia mudah bosan dengan satu jenis permainan, ketika sebuah puzle sudah ia taklukkan, atau sebuah mobil-mobilan atau mainan berbaterai berhasil ia bongkar (namun jarang bisa memasang kembali dengan benar..) dia mudah sekali meminta atau bahkan membuat mainan baru. Bahkan Fahri lebih memilih tidak menggunakan uang saku sekolahnya untuk membeli jajanan, ia lebih memilih membeli mainan-mainan kecil yang lucu. Seperti senter mini, bulpen yang ada lampu kecilnya, magnet, dan mainan-mainan sebagai obyek baru 'penelitian'nya.

Banyak orang bilang bahwa anak nakal itu banyak akal. Guru-guru TK Fahri juga mengatakan demikian, meskipun mereka selalu mengeluh capek ngopeni(1) tingkah Fahri yang tak bisa diam, tapi mereka menebak bahwa perkembangan otaknya akan terarah baik jika ditimulasi dengan tepat.

Umur 7tahun Fahri mulai suka menulis pengalamannya di file komputer. Smoga suatu saat juga bisa menjadi penulis.. amiiin


Rabu, 27 Maret 2013

Secangkir kopi dan hangatnya pelukan pagi...

Hitamnya kopi adalah pelukan hangat,
Yang saya rindukan saat geliat senja merapat...
Adalah rengkuhan kuat.
Saat ukiran cita-cita saya dimulai pada pagi yang pekat.






Secangkir kopi, selalu tersedia di meja dapur saya setiap pagi...

Saya sudah menikmati dan tak bisa lepas dari candunya kopi semenjak kecil. Sejak masih suka duduk bergelayut di pangkuan bapak saya. Ikut menyesap dan kopi hitam kepunyaan bapak. 

Rasanya terlalu susah untuk dibenci dan dijauhkan dari kehidupan saya, meskipun banyak yang mengatakan bahwa ia tak bagus buat kesehatan, pemicu darah tinggi, membuat perih lambung, atau bahkan membuat oestoporosis dini.. Entahlah, kalau baca-baca informasi kesehatan sih, segala jenis makanan dan minuman itu ada sisi positif dan negatifnya.. tergantung kita sendiri bagaimana menyeimbangkannya dalam konsumsi sehari-hari. Rumus pasti yang saya pegang adalah : Berlebih-lebihan tetaplah tak baik. Jadi meskipun saya sukaaa banget dan tak bisa lepas dari kopi tetap saya batasi secangkir saja dalam sehari. Ada lagi saran kesehatan yang saya patuhi yaitu secangkir kopi harus diimbangi dengan dua gelas air putih. Yup tak mau lepas kopi selalu saya imbangi dengan minum banyak-banyak air putih setiap waktu.

Minggu, 24 Maret 2013

Hikmah dan pelajaran dalam warna-warni noda.

Betapa anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup. Yang sungguh tak pernah kering jika kita mau mengamati dengan cinta. 
(Fira basuki, Rinso, Kompas Gramedia)


Dari celoteh seorang anak, dan juga segala polahnya terkadang ada banyak nasehat berharga, yang kadang-kadang sama persis dengan nasehat yang kita dengar dari penceramah atau motivator-motivator hebat di televisi atau buku. Namun dari celoteh polos dan tingkah laku anak-anak kita seolah-olah bisa menyerapnya seperti menerima sinar matahari yang dititipkan pada rembulan. Lebih hangat dan lembut terasa di hati, karena ketika nasehat tersebut disampaikan oleh orang lain (yang notabenenya lebih dewasa) maka akan terasa 'menyengat' seolah sinar matahari siang yang langsung menyorot kepada tubuh dan mata kita.

Saya ingat sebuah talk show di televisi, saat itu tamu yang diwawancarai adalah artis idola saya. Chef cantik nan eksotik Farah Qwinn, dalam sesuah sesi pertanyaan tentang foto-foto vulgarnya dia mengutarakan bahwa seiring waktu dia ingin berubah mengurangi hoby tampil dan berfoto 'seksi' setelah mendengar celoteh anaknya yang bernama Arman. Saat melihat pose-pose seksi mamanya dalam sebuah majalah sang anak berujar dengan polos.. "Mommy malu dong pakai seperti itu, itu jadi kelihatan..." sejak saat itu si chef cantik mulai berpikir untuk mengurangi pose-pose panasnya atas 'nasehat' sang anak. Sebuah fakta kecil bahwa nasehat celoteh dari anak lebih bisa hangat diterima dibandingkan (mungkin) sebuah demo keras dari FPI atau nasehat-nasehat Ustadz di pengajian. Perubahan juga butuh proses, dan terkadang memang seorang anak lah yang memulai memercikkan inisiatifnya mengajak orang tua lewat bahasa dan caranya sendiri.

Gambar berasal dari SINI.



Dalam buku 'CERITA DIBALIK NODA' banyak menceritakan kisah-kisah menarik. Masing-masing menyajikan pembelajaran bahwa selalu ada hikmah di dalam sepercik noda. Saya sangat setuju dengan ungkapan Fira Basuki bahwa hidup akan menjadi semakin kaya ketika kita bersentuhan dengan 'noda'. Hidup selaksa baju kotor, ketika noda sudah berusaha dihilangkan dengan mencucinya bersih-bersih, kita ibarat memasuki hidup baru dan harapan baru.

Jumat, 22 Maret 2013

Paket komplit Be A Writer.

Sebuah sekolah, rumah atau kafe? terserah bagaimana pengandaiannya. Bagi saya menjadi bagian di dalamnya sungguh menyenangkan.

Grup facebook Be a Writer. Sudah lumayan lama saya menjadi penghuninya. Hari-hari saya terasa belum lengkap jika masuk dunia online belum mampir ke BAW (sebutan singkat Be A writer). Karena semakin hari saya semakin merasakan bahwa di BAW semuanya komplit tersedia. Tidak terlalu berlebihan seperti info berderet di beranda facebook saya (yang sungguh warna-warni status dan foto-foto yang bertebaran), Semua pas seperti apa yang saya butuhkan dan saya inginkan. Dan dalam segi penerimaan dari penghuni lain  juga sangat pas di hati saya, saya yang 'hanya begini-begini saja, angin-anginan, dan agak labil' bisa merasa diterima dengan nyaman dan dianggap ada. Sehingga tak heran, ketika buka facebook posisi saya lebih lama di BAW dari pada di beranda atau wall saya sendiri hehe.. 

Grup digagas oleh mbak Leyla Imtichanah, penulis senior FLP yang sudah menulis belasan novel dan buku non fiksi islami. Kemudian diaktifkan dengan bantuan mentor lain yaitu Mbak Riawani Elyta, penulis baru tapi karyanya sudah mbrudul terbit di penerbit-penerbit ternama dalam waktu singkat, kemudian mbak Eni Martini yang juga sudah menulis belasan novel, dan ditambah lagi mentor yang baru masuk yaitu mbak Yeni Mulati yang lebih dikenal dengan sebutan Afifah Afra, senior FLP yang juga mempunyai Penerbit Indiva.

Kamis, 21 Maret 2013

Menjadi istrinya orang baiiik, harusnya bagaimana?

Personal branding, sebuah istilah yang saya fahami padan katanya sebagai ciri khas yang membuat seseorang dikenali. Sebagaimana Kak Seto terkenal dalam bidang kepedulian terhadap anak-anak, kemudian Dokter Boyke terkenal dalam bidang kesehatan seks, ada lagi Roy Suryo yang sering diwawancarai wartawan mengenai telematika (eh ternyata kok malah diangkat jadi menteri olah raga dan ngurusin PSSI yang bikin pusing itu ya? ops..^^).

Yup masing-masing orang kayaknya memang punya personal branding sendiri. Di dunia onlen mapun offlen, jadi rumus patennya adalah.. ketika orang mempunyai ciri khas maka ia menjadi gampang diingat. 

Nah yang akan saya bahas di postingan ini adalah tentang seseorang yang personal brandingnya itu adalah 'ringan tangan'. Bukan berarti ringan tangan itu suka memukul atau gampang menendang. Namun perumpamaan dari baik hati dan suka menolong. 

Dia adalah seorang laki-laki yang telah menjadi suami saya, ayah anak-anak saya, menantu dari orang tua saya, cucu dari kakek saya plus juga menjadi keponakan dari budhe dan bulek saya... hmmm. Dia orang baru yang hadir di keluarga kami namun begitu memikat keluarga saya sedemikian rupa. Senang dan agak gemas rasanya.

Apa pasal?

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...