Tampilkan postingan dengan label 8 minggu ngeblog bersama anging mammiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 8 minggu ngeblog bersama anging mammiri. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Mei 2013

Aktualisasi, selingan penat dan berbagi manfaat

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ke-7 dengan tema "Seandainya saya tidak ngeblog''.
------------------------------------------


Ngeblog ituuuu.. ehm sesuatu banget.
Bukannya sok ikut-ikutan Mbak Syahrinol, tapi beneran saya merasakan bahwa ngeblog itu lebih sesuatu daripada nulis di media lain.

Dulu saat masih sangat gaptek, kenal internet pertamanya hanya social media Facebook, saya sukanya nulis di note facebook. Kemudian ngetag teman-teman yang saya ingin mereka baca tulisan saya. Senang sekali rasanya mendapat respon dan apresiasi atas apa yang saya tulis. Apresiasi menyenangkan itu tak melulu berupa pujian, namun tanggapan yang cocok dengan tema tulisan yang saya suguhkan itu lebih berharga di hati saya. Saya malah agak kurang suka dengan komen yang 'wah keren', 'bagus' dan gitu-gitu saja... malah saya jadi mikir bahwa sebenarnya dia nggak membaca cuman unjuk gigi atau numpang lewat aja hehehe..

Kritik dan saran juga merupakan apresiasi yang bermanfaat, meskipun jujur saja kalau terlalu pedas dan menggurui itu rasanya tidak menyenangkan (jujurrr amiit, Bu!.. ^^).

Namun seiring perkembangan jam terbang saya berkencan sama Latipah (nama netbook saya.. ) lama-lama saya bisa membuat blog, dengan panduan teman facebook dan juga Syaikh Gugel. Maka saya  punya blog dan mulai mengisinya dengan macam-macam tulisan. Awalnya cuma impor dari note-note FB lama-lama saya lebih merasa asyik mendokumentasikan lintasan-lintasan pemikiran saya lewat blog. Gimana ya? rasanya lebih private, menarik dilihat, dan tidak mengganggu orang (seiring waktu saya memahami sesuatu bahwa kerjaan ngetag-ngetag tulisan ke FB orang lain itu agak menggaggu, saya memposisikan diri sendiri yang saat kebanjiran tag dari teman dan tak bisa baca jadi merasa bersalah kalau tidak baca, kemudian merasa agak 'terpaksa' buat baca dan mampir komen, lagipula ngetag itu juga aslinya ribet dan menyita waktu jadi lama-lama jadi malas melakukannya).

Sabtu, 18 Mei 2013

Between Area

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam dengan tema 'dua sisi''.


Dua hal yang katanya niscaya dalam kehidupan ini adalah dua sisi yang saling berlawanan. Semisal ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada protagonis ada antagonis, ada pahit ada manis, ada benar ada salah dan lain-lain. Buanyak sekali...

Dan kadang kita terjebak untuk hanya terpaku pada salah satu sisinya. Dan terlampau mengidolakannya.

Saya jadi terkenang pada masa lalu di Pesantren. Murobbi, pengasuh Pesantren Langitan. KH Abdullah Faqih (almarhum, Allahummaghfirlahu warhamhu..). Dalam memandang carut marut berbagai fenomena yang saya lihat di dunia yang saya pijak kini. Dunia yang warna-warni pemikiran bertebaran dan saling bersaing untuk mendapatkan tempat dan follower, saya selalu mengingat dawuh-dawuh beliau semasa masih memberikan tausiyah pada santri-santrinya. Dalam selingan nasehat bijak beliau saya sering menangkap pemikiran beliau tentang keseimbangan, artinya jangan terlalu ngalor[1] dan jangan terlalu ngidul[2]. Jangan terlalu liberalis dan jangan terlalu fundamentalis... dan meskipun beliau adalah salah satu Kyai 'poros langit' yang memberikan restu Gus Dur ( KH Abdurrahman Wachid Almarhum, Allahummaghfirlahu warhamhu...) untuk maju mencalonkan diri menjadi presiden namun dalam tausiyah pada santrinya Kyai Faqih juga acapkali mengkritik Gus Dur. Dalam arti terselubung beliau tidak berkehendak kalau santri-santrinya terlalu mengidolakan Gus Dur tanpa penilaian proposional bahwa manusia juga tetap punya khilaf dan lupa.


Buku Potret dan tauladan Syaikhina KH Abdullah Faqih, berisi pemikiran-pemikiran beliau, mutiara nasehat dan  kata-kata kenangan dari beberapa tokoh, keluarga dan sahabat tentang uswah kebaikan dari Syaikhina.


Kritik yang saya ingat dan berhubungan dengan keseimbangan berpikir itu adalah, beliau Kyai Faqih pernah ngendikan[3] : "Saat jadi presiden, jangan seperti Gus Dur. Terlalu banyak bicara yang kurang penting dan kontroversi malah menimbulkan masalah seperti statement bahwa 'anggota DPR/MPR seperti anak-anak TK dan jangan pula seperti Megawati saat dibutuhkan menjawab dan bicara penting lebih banyak diamnya (waktu itu populer slogan -the silent is gold-nya Ibu Mega)'. Beliau Kyai Faqih menyampaikan hal tersebut di sela-sela ngaji kitab kuning dan memberikan nasehat-nasehat keislaman.

Rabu, 08 Mei 2013

Acuhkan Saja Pepatah 'The First Love Never Die' !


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kelima. Dengan tema 'Cinta Pertama'.
----------------------------------------------------------------------

Dulu saya pernah menulis puisi yang saya namakan PUISI BASI (pernah saya share di facebook, tepatnya 5 mei 2010) 

WARNA TELAGA 
YANG TAK PERNAH TERBACA

Seorang pemuda hitam manis
Dia seperti detakan jantung
Sesekali tersenyum tipis
Dalam lensa berbingkai mendung

Kadang kala,
Membuat sukma tertegun
Dalam goresan petang nan anggun

Pada jingga tak pernah ku bertanya
Pun tak sanggup mengetuk
Hingga tak ada yang membuka pintu
Tuk ijinkan meraba warna telaga

Seorang pemuda hitam manis
Dia seperti detakan jantung

Takdir tak mau menunggu
DIA terlampau tahu
Apa terbaik untuk alurku

Baris-baris puisi
Sekedar basa-basi
Catatan hati yang tak boleh bersemi

----------

Basi banget bukan? hehehe
Yap, saya memang manusia biasa. Yang tak memungkiri bahwa pernah terjadi galau hati karena CLBK. Ahay.. kayak anak remaja saja sih, bu? Loh emangnya cinta itu cuman milik remaja saja, emak-emak nggak boleh apa?

Rabu, 01 Mei 2013

Hidup kurang meriah jika hanya satu warna.

Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama anging mammiri, minggu keempat dengan tema 'Warna'.

Saya senang sekali saat pulang menjemput Fahri pada hari-hari pertama sekolah di kelas 1 MI. Pertama kalinya dia diajarkan nama-nama warna dalam bahasa selain bahasa Indonesia dan Jawa. Dia diajarkan bahasa Arab dan Inggris namun kosa katanya masih yang paling dasar dan sederhana, diantaranya adalah nama-nama warna.

Ahmarun artinya merah
Abyadhun artinya putih.
Asfarun artinya kuning.
Burtuqoliyun oranye.

Azroqun artinya biru.
Asmarun artinya coklat.
Aswadun artinya hitam.
Binafsajiyyun ungu.

Lagunya disamakan dengan lagu balonku ada 5, banyak yang agak fales dan kurang pas dengan irama asli tapi tetep seneng melihat Fahri lebih mudah mengahafal jika sambil dilagukan.

Gambar berasal dari SINI.


Bersamaan dengan Fahri mengenal nama bahasa lain dari warna-warna itu saya juga berpikir betapa semua warna itu adalah indah. Jika dikaitkan dengan beberapa asumsi rekaan manusia, katanya warna ini melambang ini, warna itu melambangkan anu dan semacamnya... itu kan asumsi manusia yang didasarkankan pengalaman dan perasaannya masing-masing.

Senin, 22 April 2013

Leyla Imtichanah, Si pemecah batu.

Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama anging mammiri, minggu kedua dengan tema perempuan inspiratifku.

Pecah telor, biasanya digunakan sebagai analogi bagi seseorang yang berhasil meraih apa yang menjadi incaran, apa yang diharap-harapkan dan apa yang sangat diidamkan. Hmm.. bagi saya kayaknya analogi itu terlalu ringan. Pecah telor itu gampang banget bukan? tinggal diketuk sama sendok atau dibenturkan pinggiran wajan saja sudah bisa pecah dengan suksesnya.

Bagi saya meraih sesuatu yang diidam-idamkan itu laksana memecahkan sebuah batu. Susaaah, semakin besar batu yang ingin kita pecahkan maka akan semakin besar pula tenaga dan segala jurus yang harus kita upayakan.

Dalam dunia menulis, ternyata saya masih belum bisa menyederhanakan 'batu-batu' yang ingin saya pecahkan. Saya masih ingin menulis untuk diterbitkan menjadi buku, saya masih ingin bisa nembus tulisan ke dalam ke media cetak, dan beberapa waktu terakhir saat mulai kecemplung asyiknya dunia blogging saya juga memendam ingin memenangkan kontes blog yang bergengsi dan berhadiah besar.

Ada seorang perempuan inspiratif yang saya kenal di dunia maya. Dia menginspirasi saya dalam dunia menulis, seseorang yang saya nilai tangguh, pantang putus asa.. dan satu lagi pantang jenuh ketika fokus memecahkan 'batu' yang ia incar.

Leyla Imtichanah, adalah seorang penulis Forum Lingkar Pena yang sudah banyak menghasilkan buku bergenre fiksi dan nonfiksi. Namun ketika berumah tangga beliau agak berkurang produktiftasnya, namun beliau tetap berusaha menekuni aktfitasnya yang dicintainya yaitu menulis, menulis dan menulis. Tidak pantang menyerah terus mencoba mengetuk penerbit, revisi, diskusi dan permak sana-sini tanpa manggadaikan prinsip yang dipegangnya. Semakin lama industri penerbitan buku semakin penuh persaingan sehingga meski terbilang senior pun bukan hal yang mudah untuk mulus dan licin jalannya untuk menerbitkan tulisan terbarunya.

Dalam sharing kepenulisan di sebuah grup menulis yang didirikannya, Mbak Leyla sempat menceritakan behind the scene sebuah novel yang konon sudah 7 tahun lalu ditulisnya namun baru bisa terbit dengan manis. Yup, inspirasinya adalah tentang kesabaran, tentang ketekunan memecahkan batu besar tak selalu bisa dengan cara instan.

Buku Mbak Leyla yang ciamik, tema melawan arus  berbeda dari mayoritas novel yang  menggambarkan tokoh laki-laki impian serupa 'prince' dalam kisah Cinderella. Kavernya manis bangeeet ^^ .
Gambar diambil dari blognya Mbak Leyla, Menghidupkan Kehidupan

Minggu, 21 April 2013

Masak memakai Pecahan Genting.

Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama anging mammiri, minggu kedua dengan tema Rasa Lokal (Local Flavour) 

Saya ingat bahwa ada lagi sesuatu yang unik dari kota saya, tepatnya ya lingkungan tempat saya. Entah ada di daerah lain atau tidak cara memasak seperti yang akan saya ceritakan di bawah ini.

Masyarakat Jawa Timur termasuk Jombang tipikalnya orang yang suka makanan praktis. Namun bukan instan semacam burger atau hotdog gitu. Maksudnya praktis adalah bahan mudah didapat dan gak pake lama cara membuatnya seperti Rendang. Juga kurang suka masakan yang terlalu manis. 

Pernah keluarga kami berkunjung ke daerah Jawa tengah yang umumnya seperti masakan Gudeg menggunakan gula merah agak banyak. Ya, lidah yang terlatih dengan masakan daerah sendiri terkadang tidak familiar dengan rasa yang diluar kebiasaan. Sambil mringis ada yang nyinyir mengucapkan "Itu sayur apa kolak sih? maniis.." hehe.. kerabat yang di jawa tengah bertoleransi dengan lidah kami dan buru-buru membuatkan sambal yang pedas. Yang Jawa tengah jangan tersinggung ya. Masalah perbedaan selera saja bukan ^^ 

Nah masakan-masakan daerah kami yang  menjadi favorit mayoritas penduduk kampung asli adalah masakan sambel-sambel segar. Ada Urap-urap yang disini lebih sering disebut KRAWU. Ada juga nama masakan TRANCAM, sejenis urap-urap namun yang jadikan sayur adalah bahan-bahan mentah. Kalau krawu, sayuran yang dipakai semuanya harus matang dikukus.

Selasa, 16 April 2013

Jombang tak sekedar berisi Ryan, Ponari atau Eyang Subur.

Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama anging mammiri, minggu kedua dengan tema Rasa Lokal (Local Flavour) 

Saya ingin menceritakan tentang kota saya saja ah. Sebuah kota kecil tempat saya dilahirkan, dibesarkan dan menjalani hidup di masa sekarang, hehehe artinya saya tak pernah kemana-mana, menikah dapat orang Jombang juga dan pada kelanjutannya tetap staytune di Jombang sehingga beranak pinak hehehe..



Rumah saya di Jombang, tempat tinggal keluarga kecil saya ^^ .



Belakangan (beberapa waktu yang lalu) Jombang jadi terkenal deh saat berita yang berhari-hari jadi headline di berbagai media. Tentang pembunuhan sadis seorang Gay ganteng bernama Ryan, yang ternyata korban-korbannya dikubur di sekitar rumahnya di sebuah kampung di Jombang. Saat semuanya terbongkar, tekape alias lokasi kejadian kuburan mayat-mayat korban ditemukan dan digali menjadi sangat heboh dan ramai. Banyak orang datang (tak hanya dari daerah sekitar Jombang saja) sekedar ingin melihat karena penasaran dan heran (heran dalam makna negatif, kok ada ya orang yang keji macam gitu, dikubur dekat rumah dan kedua orang taunya sama sekali nggak tahu?). Sampai-sampai saking banyaknya orang yang datang melihat sehingga mendatangkan rejeki bagi tetangga-tetangga Ryan di Tembelang Jombang (dari perolehan jasa parkir sampai jualan es) ckckckc..

Ringin contong, sebuah bangunan semacam tugu yang menjadi ikon kota Jombang, Letaknya di tengah kota.. kalau  Jakarta ya mungkin kayak bundaran HI gitu kali ya hehehe.. Gambar berasal dari SINI.


Belum terlupakan sosok 'jagal dari Jombang' saat kasus Ryan sudah jarang dimunculkan di berbagai media. Muncul lagi sosok Ponari, anak kecil yang 'katanya' bisa menyembuhkan berbagai penyakit hanya memakai media air yang dicelupin sebuah batu sakti.

Jumat, 12 April 2013

Lijo, Pracangan dan Pasar krempyeng

Ketika ada yang memberikan rangsangan untuk rajin menulis blog, maka saya pun ingin menyambutnya dengan hangat. Saat digelar ajang menulis "8 hari ngeblog" oleh komunitas blogger makassar ANGIN MAMIRI, maka saya menyatakan terlebih dahulu bahwa tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama anging mammiri, minggu pertama. 

So cekidot ^^..

Jika teman-teman berkunjung ke tempat tinggalku di salah satu sudut kota Jombang (sudutnya kota maknanya kampung^^..), mungkin tak banyak yang bisa saya ceritakan untuk kemudian dijadikan pemikat supaya kalian bisa betah berlama-lama disini. Namun saya tetep pengen cerita hehehe...

Sedikit aktifitas pagi yang bersinggungan dengan orang-orang disekitar saya. Pagi bagi ibu rumah tangga seperti saya pasti lumrahnya bangun kemudian turun ke dapur, kemudian mencari kelengkapan lauk pauk dan sayur ke tukang sayur. Kalau di kampung saya ada 3 macam tukang sayur, yang satu dijajakan keliling namanya Lijo, dan satu lagi tidak dijajakan keliling melainkan hanya digelar di depan rumah sebagai toko kecil khusus bahan dapur namanya Pracangan. Dan ada satu lagi tukang jualan lauk dan bahan dapur yang menggelar dagangannya di pinggiran jalan ramai (biasanya di pojok perempatan tempat lalu lalang orang disediakan angkring bambu oleh warga sekitar untuk tempat duduk-duduk santai sore dan malam hari, juga dibuat tempat ronda saat malam, maka pada pagi harinya kadang dimanfaatkan oleh tukang sayur menggelar dagangannya), nah tukang sayur yang terakhir itu tempat mangkalnya dinamakan pasar krempyeng, ramainya diumpamakan pasar namun hanya sak krempyengan alias sekajab saja sesudah jam tujuh akan kembali sepi dan senyap.

Penampilan Lijo (tukang sayur) di kampung saya kurang lebih seperti ini, dulu banyak yang menggunakan sepeda onthel tapi lijo zaman sekarang lebih banyak yang memakai sepeda motor dengan  rengkek  penuh  bermacam-macam bahan  makanan. Gambar berasal dari SINI.


Saya biasanya belanja di pracangan. Penjual kebutuhan dapur yang memajang dagangan di rumahnya sendiri.  Saya memilih penjual yang datang kulakannya paling pagi.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...