 |
Fahri bersama adiknya Zahra, kedua-duanya sangat aktif dan tak mau diam, selalu saja ada tingkahnya yang membuat rumah kami ramai. *** |
Terkadang orang sering salah ucap ketika sedang capek dan lelah melihat tingkah laku anaknya pada usia pertumbuhan. Saya pun demikian, ketika merasakan lelah dengan tingkah polah anak laki-laki saya, si Fahri. Saya menyebutnya sebagai anak yang nakal, aktif, super aktif bahkan
hiperaktif. Padahal ternyata sebutan yang terakhir itu salah.
Saya diberitahukan oleh seorang teman bahwa aktif dan hiperaktif itu berbeda.
Pada anak aktif otaknya normal tanpa gangguan, hanya saja energi yang dipunyai berlimpah sehingga seorang anak mempunyai keinginan untuk terus bergerak sehingga ia tampak lebih 'tak bisa diam' dibanding anak-anak lain.
Sedangkan hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan
disfungsi neurologis dengan gejala utama kurang mampu memusatkan perhatian. Gangguan itu disebabkan oleh kerusakan kecil pada sistem syafaf pusat dan sehingga menyebabkan rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan susah dikendalikan. Perilaku anak sangat aktif diluar batas wajar dan susah mengontrol emosinya.
Ditambah dari membaca info-info di website yang bertebaran dan juga menonton tayangan-tayangan televisi tentang tumbuh kembang anak, ternyata saya salah besar telah menjuluki Fahri sebagai anak yang
hiperaktif. Toh selama ini dia masih bisa fokus saat saya memberikan intruksi dan berbagai stimulasi untuk tumbuh kembangnya. Saat diajari mengaji dia masih bisa menyerap pelajaran tapi tetap sambil bergerak, kaki digoyang-goyang, tangan memukul-mukul kursi dan ada saja yang membuatnya bergerak. Rasanya ketika 5 menit saja saya coba suruh diam dia akan kesemutan deh, kadang seolah dia bisa diam sejenak namun ketika saya amati jari-jari kecilnya masih bergerak bergoyang-goyang di belakang punggungnya hehehe..
Belum lagi ketika bermain. Dia mudah bosan dengan satu jenis permainan, ketika sebuah puzle sudah ia taklukkan, atau sebuah mobil-mobilan atau mainan berbaterai berhasil ia bongkar (namun jarang bisa memasang kembali dengan benar..) dia mudah sekali meminta atau bahkan membuat mainan baru. Bahkan Fahri lebih memilih tidak menggunakan uang saku sekolahnya untuk membeli jajanan, ia lebih memilih membeli mainan-mainan kecil yang lucu. Seperti senter mini, bulpen yang ada lampu kecilnya, magnet, dan mainan-mainan sebagai obyek baru 'penelitian'nya.
Banyak orang bilang bahwa anak nakal itu banyak akal. Guru-guru TK Fahri juga mengatakan demikian, meskipun mereka selalu mengeluh capek
ngopeni(1) tingkah Fahri yang tak bisa diam, tapi mereka menebak bahwa perkembangan otaknya akan terarah baik jika ditimulasi dengan tepat.
 |
| Umur 7tahun Fahri mulai suka menulis pengalamannya di file komputer. Smoga suatu saat juga bisa menjadi penulis.. amiiin |