Tulisan ini diikutkan dalam 8 minggu ngeblog bersama anging mammiri, minggu kedua dengan tema perempuan inspiratifku.
Pecah telor, biasanya digunakan sebagai analogi bagi seseorang yang berhasil meraih apa yang menjadi incaran, apa yang diharap-harapkan dan apa yang sangat diidamkan. Hmm.. bagi saya kayaknya analogi itu terlalu ringan. Pecah telor itu gampang banget bukan? tinggal diketuk sama sendok atau dibenturkan pinggiran wajan saja sudah bisa pecah dengan suksesnya.
Bagi saya meraih sesuatu yang diidam-idamkan itu laksana memecahkan sebuah batu. Susaaah, semakin besar batu yang ingin kita pecahkan maka akan semakin besar pula tenaga dan segala jurus yang harus kita upayakan.
Dalam dunia menulis, ternyata saya masih belum bisa menyederhanakan 'batu-batu' yang ingin saya pecahkan. Saya masih ingin menulis untuk diterbitkan menjadi buku, saya masih ingin bisa nembus tulisan ke dalam ke media cetak, dan beberapa waktu terakhir saat mulai kecemplung asyiknya dunia blogging saya juga memendam ingin memenangkan kontes blog yang bergengsi dan berhadiah besar.
Ada seorang perempuan inspiratif yang saya kenal di dunia maya. Dia menginspirasi saya dalam dunia menulis, seseorang yang saya nilai tangguh, pantang putus asa.. dan satu lagi pantang jenuh ketika fokus memecahkan 'batu' yang ia incar.
Leyla Imtichanah, adalah seorang penulis Forum Lingkar Pena yang sudah banyak menghasilkan buku bergenre fiksi dan nonfiksi. Namun ketika berumah tangga beliau agak berkurang produktiftasnya, namun beliau tetap berusaha menekuni aktfitasnya yang dicintainya yaitu menulis, menulis dan menulis. Tidak pantang menyerah terus mencoba mengetuk penerbit, revisi, diskusi dan permak sana-sini tanpa manggadaikan prinsip yang dipegangnya. Semakin lama industri penerbitan buku semakin penuh persaingan sehingga meski terbilang senior pun bukan hal yang mudah untuk mulus dan licin jalannya untuk menerbitkan tulisan terbarunya.
Dalam sharing kepenulisan di sebuah grup menulis yang didirikannya, Mbak Leyla sempat menceritakan behind the scene sebuah novel yang konon sudah 7 tahun lalu ditulisnya namun baru bisa terbit dengan manis. Yup, inspirasinya adalah tentang kesabaran, tentang ketekunan memecahkan batu besar tak selalu bisa dengan cara instan.
Pecah telor, biasanya digunakan sebagai analogi bagi seseorang yang berhasil meraih apa yang menjadi incaran, apa yang diharap-harapkan dan apa yang sangat diidamkan. Hmm.. bagi saya kayaknya analogi itu terlalu ringan. Pecah telor itu gampang banget bukan? tinggal diketuk sama sendok atau dibenturkan pinggiran wajan saja sudah bisa pecah dengan suksesnya.
Bagi saya meraih sesuatu yang diidam-idamkan itu laksana memecahkan sebuah batu. Susaaah, semakin besar batu yang ingin kita pecahkan maka akan semakin besar pula tenaga dan segala jurus yang harus kita upayakan.
Dalam dunia menulis, ternyata saya masih belum bisa menyederhanakan 'batu-batu' yang ingin saya pecahkan. Saya masih ingin menulis untuk diterbitkan menjadi buku, saya masih ingin bisa nembus tulisan ke dalam ke media cetak, dan beberapa waktu terakhir saat mulai kecemplung asyiknya dunia blogging saya juga memendam ingin memenangkan kontes blog yang bergengsi dan berhadiah besar.
Ada seorang perempuan inspiratif yang saya kenal di dunia maya. Dia menginspirasi saya dalam dunia menulis, seseorang yang saya nilai tangguh, pantang putus asa.. dan satu lagi pantang jenuh ketika fokus memecahkan 'batu' yang ia incar.
Leyla Imtichanah, adalah seorang penulis Forum Lingkar Pena yang sudah banyak menghasilkan buku bergenre fiksi dan nonfiksi. Namun ketika berumah tangga beliau agak berkurang produktiftasnya, namun beliau tetap berusaha menekuni aktfitasnya yang dicintainya yaitu menulis, menulis dan menulis. Tidak pantang menyerah terus mencoba mengetuk penerbit, revisi, diskusi dan permak sana-sini tanpa manggadaikan prinsip yang dipegangnya. Semakin lama industri penerbitan buku semakin penuh persaingan sehingga meski terbilang senior pun bukan hal yang mudah untuk mulus dan licin jalannya untuk menerbitkan tulisan terbarunya.
Dalam sharing kepenulisan di sebuah grup menulis yang didirikannya, Mbak Leyla sempat menceritakan behind the scene sebuah novel yang konon sudah 7 tahun lalu ditulisnya namun baru bisa terbit dengan manis. Yup, inspirasinya adalah tentang kesabaran, tentang ketekunan memecahkan batu besar tak selalu bisa dengan cara instan.
![]() |
| Buku Mbak Leyla yang ciamik, tema melawan arus berbeda dari mayoritas novel yang menggambarkan tokoh laki-laki impian serupa 'prince' dalam kisah Cinderella. Kavernya manis bangeeet ^^ . Gambar diambil dari blognya Mbak Leyla, Menghidupkan Kehidupan. |



