Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2014

Lelaki Embun

Membaca post status teman yang puisinya dimuat di koran rasanya jadi kepengiiiin banget..
Jadi spontan buka-buka folder lawas yang berisi file-file puisi. Kelihat norak deh tulisan-tulisan lama hehehe.. belum pede kirim buat media. Posting disini ah.. nanti nulis lagi, belajar lagiii ^^

Puisi sok romantis...

Selasa, 17 Desember 2013

KALIMAT SAFIYYAH


Karena apa...
Satu jiwa harus berbangga
Selayak rona kokohkan cakrawala

Apakah titisan garis darah?
Pantaskah menjadi alasan...
Untuk mendongakkan kepala
Paras semerdu untaian pelangi...
Bukankah titipan semata?

Kilau dunia semegah istana...
Tak kan bisa membeli sejatinya syurga.
Dan, mungkin
Kuasa menjadi nahkoda.
Kan berakhir saat kapal berlabuh di dermaga

Adakah lebih bermakna?
Menggores maha karya.
Dengan arsir prestasi.
Pada lembar-lembar jati diri.

Hingga dunia mengakui,
‘Aku adalah aku’....
Seraya menjawab pertanyaan mereka.
Dengan kalimat Safiyyah binti Huyay
“Aku adalah istri Muhammad,
Bapakku Musa dan pamanku Harun”
(*)

Rabu, 10 Juli 2013

Dapur Ngebut Ramadhan...

"Dapur kami makin ngebul..
Makin Ngebut.."
Kata penjual kurma

"Dapur kami juga makin ngebyurr"..
Kata penjual baju koko
Juga penjual busana muslimah

Lihat juga mereka bergumam sumringah.
Ustadz-ustadzah ramai diundang tausiyah.
Biduan biduanita menjual nyanyian bertajuk ibadah...
Aktor artis bermain peran berseting pesantren atau tempat pengajian..
Bahkan penjual banyolan pun laris manis,
Dijejalkan pada acara menunggu bedug atau teman makan sahur.
--- Lagi panen berkah niiih!!!
Dapur-dapur kami yang aromanya bertambah meriah...
Order-order kami selaksa banjir yang membuncah..
Ramadhan itu memang.... wow dan wah!!

Eh, dapur siapa lagi kah yang juga semakin ngebut?
Lihat juga produk-produk yang numpang lewat!
Minuman berenergi...
Obat maag..
Mie instan...
Sirup..
Atau sekedar kecap...
Semua dihubung-hubungkan kepada sahur, berbuka dan puasa.

Ramadhan oh Ramadhan..
Sesungguhnya padamulah terbuka sejuta peluang..
Urusan dunia,
Dan urusan Tuhan...
Kau menyambut siapa saja yang meraup peluang,
Jujur untuk seimbang
Pada dua laju yang yang sama-sama menggiurkan
***






Jumat, 29 Maret 2013

Saat pagiku berwarna jenuh..

Saat pagiku berwarna jenuh...
Matahari seolah-olah terlihat angkuh..
Bening air yang biasanya selaksa senyum juga terlihat keruh..
yang keluar dari bait kata hati diujung subuh..
Hanya mengeluh,
Dan mengeluh..

Aduhai sungguh rapuh..
Padahal pijarku sendiri yang gampang melepuh...

Tambahkan mesiuku wahai Zat yang tak pernah jauh.
Hanya kepadamu sgala pinta dan keluhku berlabuh...



Senin, 25 Maret 2013

[PUISI] Menitipkan Pada Pagi....

Kadang aku mengharap bisa membuat bahasa tanpa suara.
Mengguratkan isyarat tanpa aksara.
Dan menyanyikan hasrat tanpa nada.
Bahkan mungkin meracik hidangan mengetuk selera tanpa bumbu dan aroma.

Untukmu yang melarutkan kecamukku dengan telaga.
Untukmu yang menyemarakkan sepiku dengan gemerincing detak cinta yang kureka-reka.
Meraba hatimu apa isinya? 
Hanya akan membuatku tersesat terperosok prasangka.
Rasaku dan tanyaku akan selalu kutitipkan pada senja.
Pada udara...
Pada embun 
Dan pagi yang selalu mengantarkan sapamu berlapis canda.

Aku masih mencoba merakit anyaman tanpa rotan dan kawat baja.
Hanya bermodalkan cinta dan do'a. 




Jumat, 15 Maret 2013

[PUISI] Siung



Berapa siung bawang yang kau rajang hari ini, Bu?
Ditukar berapa siung lembaran uang lusuhmu yang kau dapat susah payah itu, Bude..?

Pedagang ayam pun berteriak nyaring..
"Daging ayam murah sodara-sodara.. sungguh sangat murah.."
Ludah tertelan dengan agak sengir, selaksa bawang putih mentah,
Yang prestasinya melonjak kalahkan daging yang selama ini menjadi raja...

Seorang perempuan penguasa dapur berbisik mesra...
'Hai teman setiaku..
Tahu, tempe..
Cukup berlabur garam saja untuk hari ini'

Dan kini bawang putih tak lagi nestapa,
Episode sinetron kali ini, ia yang menang melawan bawang merah dan ibu tirinya, si cabe...

***

Puisi nggak jelas karena bengong mendengar harga bawang mencapai 70 ribu sekilo.. ckck

Gambar berasal dari SINI.

Selasa, 06 November 2012

Betapa sebentar lagi....

Jemari kecil itu,
Dulu suka menggigil ketika tak kupakaikan sarung mungilnya.
Gelambir kulit tipis itu,
Juga akan kedinginan jika tak kubebatkan kain bedongnya.
Kaki-kaki kecil rapuh itu,
Perlu kulatih berbulan-bulan..
Agar kelak bisa menapak,
Kemudian menggambar jejak dengan sempurna.

Kini, saat langkahnya sudah secepat rusa.

Celotehnya mengalahkan kicauan totohua[1].
Saat kulitnya sudah kebal dengan belaian udara senja.
Saat jemarinya sudah bisa memegang dan menarikan sebatang pena...

Tiba-tiba menyelusup rasa..

Ah betapa cepatnya ia bertambah tinggi...
Betapa sebentar lagi ia akan mempunyai lembaran tersendiri...
Mau tak mau dia akan meninggalkanku disini.
Untuk mewarnai kertasnya sendiri.

Oh tidak,

Aku tak boleh lengah...
Sebelum masa itu tiba,
Aku akan mengajaknya memilih warna.
Memberi tahu mana-mana warna yang indah dan berguna untuk karyanya.
Memberi tahu bahwa karyanya kelak akan dinilai oleh sang Pemilik kertas sebenarnya.
Memberi tahu bahwa kertasnya hanya satu, jangan membuat coretan yang tak perlu.
Setelah itu...?

Jikapun nanti dalam kisah kita kelak.

Mau tak mau harus ada jarak...
Antara lembaranku dan lembaranmu.
Jangan lupakan aku, Nak.
Harapanku agar kau selalu berdo'a..
'Semoga Bunda disayang Allah'

***

Footnote :
[1] Totohua adalah nama lain dari burung murai batu dari daerah nias, ia merupakan salah satu burung yang pandai menirukan suara yang ada di sekitarnya ^^ (baru saja dapat setelah baca-baca DISINI).




Tulisan ini diikutkan dalam even persaudaraan blogger nusantara oleh mbak Mubarika Damayanti. Info lengkapnya silahkan klik :

Baby Fatimah, #FFF Cincin Emas dan Persaudaraan Blogger Nusantara

Minggu, 14 Oktober 2012

PENA MENARI


Sebiru apa harapan yang akan kutuangkan malam ini?
Hanya sejenak berharap,
Bahwa esok terus menggemas warna pelangi.
Sejauh apa maya yang telah ditapaki..
Sedalam kenangan yang membuat kaki kuat berdiri.

Jika matahari masih menjadi poros,
Atas segala perputaran benda galaksi.
Sungguh lembar tahun menanti goresan berarti.
Dengan apa...???

Pintu pasti tak menawarkan negoisasi..
Maka Ayolah!!!
Tunggu apa lagi,
Gerakkan pena
Kabarkan kalam Ilahi.
Langkah ini akan serupa kepakan merpati,
Yang menembus negeri peri.

                ***


Sabtu, 06 Oktober 2012

Sebuah rasa dalam seutas jeda

Langit biru..
Dengan cahaya tembaga.
Maunya kami, untuk sejenak mengisi seutas jeda..
Namun tanpa sengaja terjebak dalam tanya berdaun praduga.
Tajuk -mengapa- diantara ritme suguhan warta.

Adu domba, pemberantas dan pembasmi noda...
Carut marut bangsa..
Oh.. kami penonton yang nelansa.
***
Gambar berasal dari SINI.

Kamis, 04 Oktober 2012

Mengetuk pintu pagi



Mari bersyukur, ketika masih meraih udara di penghujung petang.
Mari tafakkur tanpa menunggu jeda dari perputaran urusan...

Dengan tunduk nan luruh.
pasrahkan pada percikan bening yang membasuh...
bentangkan segala keluh,
Mintakan apa semua yang butuh...
Ampunan penuh...

Pagi belum sejati tersentuh.
Mari mengetuk..

Bersiap menyambut Shubuh.







Rabu, 20 Juni 2012

Ketika Tuhanku kasmaran.

Sebentar lagi.
Tuhanku akan jatuh cinta,
Dengan porsi luar biasa.
Sesaat lagi.
Tuhanku akan menggemakan semesta.
Dengan hamburan janji beraroma asmara.

Sabtu, 31 Maret 2012

SAJAK BENANG KAPAS


               

Ada sajak ….
Dimana lembar rajutan benang kapas
Menjadi sebuah bunga rampai
Pelindung identitas

Menjadi jendela kaca
Bagi sang anggrek bulan
Bahkan …
Menjadi duri untuk sang mawar

Sajak itu …

Selasa, 19 Juli 2011

Bukan tentang biru

 


Memburu detik,
Menikmati nafas
Pada lukisan ufuk yang membuka mata

Mencari sesuatu,
Sejenak mencuri jeda waktu
Bukan biru sepotong rindu...
Bukan racikan cinta yang berbumbu

Selagi hari belum menampakkan lelah
Serenada yang masih basah.
Aku mencarimu
Dalam seduhan
Dan uap kehangatan pagimu..
Ahh...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...